
TANGGUH: Andre So begitu teguh berburu murid sampai ke pelosok negeri.
Sudah sepuluh tahun hidup Andre So dihabiskan untuk menjelajahi daerah pinggiran Indonesia. Dia berburu murid untuk dikirim ke Tiongkok. Bukan sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI), tetapi untuk diberi beasiswa pendidikan.
SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Surabaya
PENGALAMAN menyusuri pelosok daerah di Kalimantan Utara (Kaltara) pada Maret 2017 tidak akan pernah dilupakan Andre So. Angin begitu kencang. Ombak setinggi dua meter terus menghantam speedboat fiber yang ditumpangi. Badan perahu pun terus terombang-ambing. Seluruh isi perut Andre rasanya ingin keluar dari mulut. Wajahnya langsung pucat. Panik. Cemas. Semua rasa tidak jelas itu menyelimuti pria 43 tahun tersebut.
Andre ingin menggerutu kepada orang lokal dari pedalaman Dayak yang mengemudikan perahu. Namun, dia urungkan. Sejak awal, nakhoda itu mengatakan bahwa perjalanan menuju Lumbis Ogong, Kabupaten Nunukan, Kaltara, hanya melewati laut lepas, lalu ke hulu. Tetapi, tidak ada cerita tentang laut lepas dengan ombak yang begitu tinggi.
Kedua tangan Andre terus mencengkeram apa saja yang bisa menjadi pegangan. Dia terus menyebut nama Tuhan untuk menyelamatkannya hingga tujuan. Temannya, Safi’i, terlihat tegang karena takut. Sesekali, mereka teriak ketika ombak mulai menerjang speedboat kecil yang ditumpanginya.
’’Ya Tuhan... Selamatkan kami,’’ seru Andre. Teriakan Andre justru membuat sang nakhoda tertawa. Dia terus mengemudi dengan sangat gesit. Menerjang ombak. Hingga wajah Andre dan Safi’i basah terciprat air. Tidak ada pemandangan yang menarik selama perjalanan. Ditambah rasa takut yang membuat perjalanan melewati laut lepas terasa begitu lama. ’’Masih lama, Pak?’’ ucap Andre yang sudah tidak tahan.
’’Sebentar lagi sudah sampai hulu,’’ jawab orang lokal tersebut. Jawaban itu cukup menenangkan Andre dan temannya. Andre akhirnya mulai menikmati perjalanan tersebut. Dia mulai berani menongolkan kepalanya dari dalam speedboat. Keduanya memandang luasnya laut yang tidak berujung. Tangannya lalu merogoh kantong dan mengambil ponsel. Dia lantas mengabadikan dirinya saat berada di speedboat. Entah kapan lagi dia bakal merasakan pengalaman yang menegangkan tersebut.
Selama sekitar 20 menit, perjalanan di laut lepas itu ditempuh. Akhirnya, Andre sampai di hulu. Perjalanan kali ini cukup tenang. Tidak ada lagi ombak. Saat itu dia melintasi laut seperti rawa. Meski tenang, rawa itu dihuni banyak buaya. Sekali saja terguling, penumpang perahu akan menjadi santapan bagi hewan berdarah dingin tersebut.
Meski merinding saat mendengar fakta tersebut, Andre dan temannya masih sedikit tenang daripada perjalanan di laut lepas. Banyak ranting kayu yang menjuntai hingga mengenai speedboat yang ditumpanginya. Andre justru terus melontarkan canda selama perjalanan. ’’Mana buayanya? Pengin lihat,’’ canda Andre.
Orang lokal yang menyetir speedboat itu pun langsung mengingatkan Andre agar tidak bercanda. Sebab, 85 persen pulau tersebut dihuni buaya. Sisanya adalah manusia. Jadi, penguasa sebenarnya adalah buaya.
Bersyukur, perjalanan yang dilaluinya berjalan lancar. Andre tidak melihat buaya sama sekali. Dia tiba di Lumbis Ogong dengan selamat. Kota yang hanya dihuni 5.209 jiwa itu sangat sepi. Desa tersebut juga belum teraliri listrik. Pendidikan anak-anak di kecamatan itu juga masih sangat rendah. Andre langsung berburu anak-anak di Lumbis Ogong yang ingin mendapatkan beasiswa pendidikan ke Tiongkok-Taiwan.
Ya, Andre adalah koordinator Indonesia Tionghoa Culture Centre (ITCC) Jawa Pos. Sebuah yayasan nonprofit di bidang pendidikan dan budaya. Dia tergabung sebagai koordinator sejak 2007. Selama 10 tahun itu, Andre terus blusukan ke pelosok-pelosok daerah untuk berburu murid yang ingin memperoleh beasiswa ke Tiongkok-Taiwan. ’’Saya mencari anak-anak pelosok, khususnya di perbatasan Indonesia, untuk bisa kuliah di luar negeri. Tiongkok-Taiwan,’’ jelasnya.
Meski tujuannya baik, tidak mudah mencari anak-anak pinggiran Indonesia yang mau meneruskan pendidikan hingga perguruan tinggi. Andre pun harus bekerja keras. Selama 10 tahun terakhir ini, hidupnya habis untuk menjelajah pelosok negeri berburu murid. ’’Saya memang suka aktivitas sosial. Khususnya bidang pendidikan,’’ ujar dia.
Sejak SD hingga SMP, Andre tinggal di Gorontalo. Kemudian, dia meninggalkan kota kelahirannya dan hijrah ke Taiwan. Andre langsung melanjutkan pendidikan SMA, kuliah, hingga bekerja di Taiwan. ’’Selama tinggal di Taiwan, seluruh pendidikan saya gratis. Bahkan, saya bisa menghasilkan uang dengan bekerja,’’ katanya.
Hingga akhirnya, dia kembali ke tanah air. Saat itu dia kaget ketika tahu biaya pendidikan di Indonesia cukup mahal. Berbeda dengan pengalamannya saat menempuh pendidikan di Taiwan. Dari situlah, Andre terinspirasi mencarikan beasiswa keluar negeri bagi anak-anak negeri. Namun, sasaran yang ingin dia capai adalah anak-anak pelosok Nusantara. Akhirnya, dia bergabung dengan ITCC sebagai koordinator. ’’Kami tidak menerima gaji. Sebab, misi kami memang sosial,’’ ungkap ayah dua anak tersebut.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
