
PERCAYA: Prof Dr Med Puruhito dr SpB(K) TKV merupakan salah satu orang dalam sejarah penting operasi jantung di Indonesia.
Manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Itu pula yang terjadi pada Prof Ito. Saat akan berangkat ke Jerman untuk suatu kepentingan, banyak muridnya yang mencegah dan menyarankan agar tidak terbang sejauh itu sebelum operasi. Mereka rupanya melihat ada yang mencurigakan pada penampilan Prof Ito.
Karena yang menghalanginya untuk pergi dan mendesak untuk segera operasi cukup banyak, Prof Ito pun mengalah: Batal pergi dan setuju untuk menjalani operasi.
Karena Prof Ito adalah ahli bedah jantung yang tidak hanya terkenal di Indonesia, tetapi juga di banyak negara, saat kabar tentang operasi beredar, tawaran pun berdatangan dari banyak ahli hebat di negara-negara maju. Antara lain, Jerman yang merupakan tempat Prof Ito meraih PhD di bidang bedah jantung. Selain itu, ada tawaran dari Malaysia dan Australia. ’’Saya tahu bagaimana hebatnya mereka-mereka itu,’’ kenangnya.
Namun, Prof Ito juga yakin atas kemampuan anak-anak didiknya yang kini sudah menjadi tim bedah jantung kenamaan di Surabaya. Karena itu, dia lantas memilih untuk menjalani operasi di Surabaya. Karena keputusan untuk operasi di Surabaya itu sudah tidak bisa diubah, Prof Dr Phillip Spratt AM yang ahli bedah jantung ternama dari Sydney, Australia, pun ’’mengalah’’. Dia datang ke Surabaya untuk mendampingi para mantan murid Prof Ito yang akan membedah jantung sang guru besar.
Mengapa Spratt merasa perlu mendampingi tim bedah jantung Surabaya yang Prof Ito sendiri tidak meragukan kemampuannya? Sebab, jenis operasi yang harus dilakukan terhadap Prof Ito bukan sekadar operasi jantung. Tetapi operasi jantung prosedur Bentall. Operasi jantung paling sulit di dunia dan paling berisiko. Tim Surabaya pun belum berpengalaman sama sekali dalam hal itu.
’’Saya sempat tanya ke Spratt tentang risiko yang saya hadapi kalau saya operasi di Sydney dan di Surabaya. Dia bilang, kalau di sana, risikonya tidak lebih dari 2 persen. Tetapi, kalau di sini, bisa sampai 5 persen. Saya berpikir positif, kan kemungkinan berhasilnya masih 95 persen kalau di sini. Maka saya tetap memilih operasi di sini, di Surabaya,’’ kenangnya.
Meski aorta mantan rektor Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu tidak robek seperti Ismail, karena katup aortanya juga perlu diganti, operasinya harus menggunakan prosedur Bentall.
Dengan prosedur tersebut, penanganan aorta yang sudah menggelembung bisa dilakukan sekaligus dengan penggantian katup aorta yang merupakan akar pembuluh darah terbesar itu. Seperti yang sudah disebutkan di bagian satu dan dua tulisan ini, aorta adalah bagian terbesar dari pembuluh arteri. Pembuluh darah itu berfungsi sebagai pengantar darah dari jantung ke seluruh tubuh.
Dibutuhkan waktu sekitar tujuh jam untuk mengatasi kelainan jantung dan pembuluh darah guru besar yang kini berusia 73 tahun itu. Satu jam lebih cepat daripada operasi Ismail. Sebab, Prof Ito tidak membutuhkan penggantian aorta arch seperti halnya Ismail. Namun, karena jenis operasinya sama-sama Bentall, yang dilakukan tim dokter bedahnya sama. Yakni, memperbaiki aorta asendens, lantas mengganti katup aorta, memotong pembuluh darah koroner yang posisinya di dekat pangkal, dan menyambungkannya kembali di akhir prosedur.
Selama operasi dilakukan, fungsi jantung dan paru-paru Prof Ito juga dialihkan ke mesin heart lung. Sama dengan Ismail. Tetapi, karena tanpa penggantian aorta arch, tim dokter tak perlu menghentikan aliran darah di tubuh profesor kelahiran 1943 itu. Jadi, tidak seperti pada Ismail.
Operasi tersebut dilakukan oleh hampir seluruh anggota tim yang menangani Ismail. Hanya, saat itu mereka didampingi Prof Spratt. Sedangkan dalam kasus Ismail, tim Surabaya melakukannya sendiri. Tanpa bantuan ahli asing mana pun.
Operasi terhadap Prof Ito dimulai sekitar pukul 10.00 dan berakhir pukul 18.00. Karena secara umum tubuhnya sehat, meski usianya saat itu sudah mencapai 72 tahun, dalam tempo empat jam setelah operasi, pria kelahiran Kediri tersebut sudah bisa bernapas sendiri. Tanpa bantuan mesin napas lagi. Sungguh kemajuan yang luar biasa.’’Sekitar jam 10 malam, sudah saya ekstubasi,’’ kata dr Philia Setiawan, ahli anestesi dan konsultan ICU yang juga menangani Ismail.
Beberapa hari di rumah sakit, Prof Ito diizinkan pulang. ’’Saya cuma istirahat enam minggu di rumah,’’ ungkapnya. Itu juga perkembangan yang luar biasa. Sebab, secara teori, orang yang baru saja menjalani operasi Bentall baru boleh beraktivitas penuh setelah 12 minggu.’’Begitu keluar dari rumah, saya langsung kerja dan mengerjakan operasi,’’ tambah Prof Ito.
Berangkat kerja pun, dia sudah menyetir mobil sendiri. ’’Kebetulan, sopir saya hari itu sedang tidak masuk karena sakit,’’ ujar bapak empat anak tersebut.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
