Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 22 September 2017 | 00.34 WIB

Karena Prof Ito Yakin Kemampuan Murid-muridnya

PERCAYA: Prof Dr Med Puruhito dr SpB(K) TKV merupakan salah satu orang dalam sejarah penting operasi jantung di Indonesia. - Image

PERCAYA: Prof Dr Med Puruhito dr SpB(K) TKV merupakan salah satu orang dalam sejarah penting operasi jantung di Indonesia.

Salah satu tokoh penting dalam sejarah operasi jantung di Indonesia adalah Prof Dr Med Puruhito dr SpB(K) TKV. Tetapi, siapa menyangka bahwa ahli bedah jantung RSUD dr Soetomo Surabaya itu juga pernah menjalani operasi jantung Bentall. Nama besarnya membuat banyak center jantung terkemuka di luar negeri menawarkan jasa untuk mengoperasi Prof Puruhito. Namun, yang bersangkutan lebih memilih operasi di Surabaya. Mengapa?


Dwi Wahyuningsih, Surabaya


TIDAK semua yang menjalani operasi jantung adalah orang yang menderita penyakit jantung. Ada juga yang jantungnya perlu dioperasi karena kelainan bawaan yang parah. Di antara mereka yang memerlukan operasi jantung akibat kelainan bawaan itu, ternyata ada Prof Dr Med Puruhito dr SpB(K) TKV.


Siapa pun pasti tidak percaya bahwa Prof Puruhito yang akrab dipanggil Prof Ito terlahir dengan kelainan bawaan.’’Sejak lahir nadi saya lebih cepat dari normal. Ini keturunan,’’ jelas Prof Ito kepada Jawa Pos.


Normalnya, denyut nadi manusia saat sedang tidak berolahraga adalah 50–70 kali per menit. Yang terbaik adalah bila denyutnya berkisar 50–60 kali. Namun, denyut nadi Prof Ito jauh di atas itu. Yakni, 80–90 kali per menit. Itu saat sedang santai. Karena itu, bisa dibayangkan berapa denyut nadinya saat berolahraga atau saat tegang mengingat profesinya sebagai ahli bedah jantung.


Meski begitu, hampir sepanjang hidupnya selama 72 tahun, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya 1967 tersebut tidak pernah punya keluhan apa pun yang terkait dengan jantungnya. Apalagi gaya hidup Prof Ito sangat sehat.


Buktinya, dia pernah lolos seleksi calon astronot pertama Indonesia hingga tahap terakhir pada 1985. Saat itu yang terpilih adalah Dr Pratiwi Pujilestari Sudarmono. Sayang, misi ke luar angkasa tersebut tidak berlanjut sehingga doktor bidang rekayasa genetika dan bioteknologi itu pun tidak pernah diberangkatkan.


Tetapi, apa pun yang tidak normal pada akhirnya akan menimbulkan suatu gangguan. Begitu juga yang dialami Prof Ito yang meraih gelar doktor (PhD) pada 1972 di Erlangen, Jerman. Betapa pun pandai dia menjaga kesehatan, nadinya yang terlalu cepat ditambah perjalanan usia membuat pembuluh aorta dan katupnya mengalami gangguan.


Meski kasusnya sama-sama pembuluh aorta, kondisi Prof Ito berbeda dengan Ismail yang baru saja menjalani operasi Bentall. Yang membedakan, aorta ahli bedah dada dan pembuluh darah lulusan Jerman itu tidak robek, tetapi menggembung. Atau dalam istilah medis dikenal dengan sebutan aneurisma.


Aneurisma juga bukan kondisi yang tidak mematikan. Bila tidak segera ditangani, pembuluh darah yang menggelembung itu akan pecah dan menimbulkan pendarahan hebat yang mematikan. Sebab, dinding pembuluh yang menggelembung tersebut sudah sangat menipis.


Bukan hanya itu akibat kelainan bawaan yang dialami Prof Ito. Selain aortanya menggelembung, katup jantungnya bocor. Secara medis disebut regurgitasi klep. Masih ada satu kelainan lagi di jantung Prof Ito yang juga merupakan akibat terlalu cepatnya denyut nadi. Yakni, pembesaran jantung (cardiomegali) hingga 15 persen dari ukuran normal.


Hal itu diketahui saat Prof Ito melakukan checkup pada November 2015. Salah satu pemeriksaannya adalah ECG alias echo-cardiography. Dengan metode itu, apa pun kelainan di jantung bisa langsung diketahui. Karena sudah ketahuan ada yang bocor dan aneurisma, pemeriksaan dipertegas dengan melakukan MRI. Itu merupakan metode pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui lebih detail kelainan jantungnya.


Melihat hasil dua pemeriksaan itu, Puruhito yang meraih gelar profesor di bidang bedah jantung pada 1997 tahu bahwa sebenarnya gangguan jantung dan pembuluh darahnya bisa diatasi dengan obat.


’’Anak saya sempat tanya, kenapa nggak pakai obat saja? Ya saya bilang, kalau pakai obat, paling bisa bertahan dua tiga tahun. Tapi, kalau operasi, aorta dan katupnya diganti, secara teori bisa bertahan hingga 20 tahun. Semoga Tuhan mengizinkan. Amin,’’ ungkapnya.


Meski guru besar FK Unair Surabaya yang selama delapan tahun ini menjabat ketua Majelis Penelitian Dikti Kemendikbud itu sudah menetapkan hati untuk operasi, dia tidak berencana melakukannya pada 2016.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore