
KREATIF: Jumali atau yang akrab di sapa Lik Jum (tengah) memainkan alat musik yang terbuat dari gerabah.
Sesuatu yang tidak dapat ditebak justru jadi daya tarik. Suara magis yang keluar dari sebuah gerabah menorehkan warna baru hingga musik terasa nikmat. Kepekaan indra dan cara si pemain turut ambil bagian.
ASA WISESA BETARI, Surabaya
SEPERTI manusia, tidak ada gerabah yang terlahir sama. Masing-masing punya karakteristik sendiri. Begitu pun manusia yang menyentuhnya. Beda tangan, beda rasa, beda tekanan, beda suara. Ketidakpastian tersebut justru menjadi sifat alamiah yang ditimbulkan gerabah yang menjadi alat musik.
Suara dengung dan degup timbul dari udara yang bergerak saat tangan menepuk lubang di sisi samping gerabah. Penciptanya adalah Jumali, 50, alias Lik Ju. ’’Lebih magis dan etnik,’’ ujar pria kelahiran Malang itu tentang musiknya.
Sembilan gerabah, generasi kelima yang lahir dari tangan Jumali, punya ’’pawangnya’’ masing-masing. Ke-9 gerabah itu juga memiliki ukuran dan bentuk yang berbeda-beda. Diameternya beragam. Yakni, 20–40 sentimeter.
Di sampingnya terdapat satu lubang berukuran 5–10 sentimeter. Lubang kecil itulah yang dipukul untuk menghasilkan suara yang merambat dan keluar dari leher gerabah. ’’Kalau seumpama gamelan, ini ketuk kenongnya,’’ tambahnya. Di studionya yang berada di Malang, Lik Ju juga punya beberapa gerabah yang dimodifikasi menggunakan senar. Cara memainkannya dipetik.
Gerabah adalah peranti yang dibuat dengan tahap berlapis. Mulai mencampurkan adonan tanah, membentuk, membakar, hingga menjemur. Dari puluhan gerabah yang dibuat, tidak ada yang menghasilkan karakter suara yang persis. Walaupun bentuk, ukuran, hingga ketebalannya plek sama.
Faktornya beragam. Salah satunya, jenis tanah liat untuk adonan. Tanah pegunungan jelas beda dengan tanah pesisir. ’’Kalau ada teman yang di luar kota, saya sering titip tanah dari sana,’’ tuturnya.
Lik Ju memiliki beberapa gerabah yang dibuat dengan menggunakan tanah dari beberapa daerah di Sumatera, Kalimantan, Bali, dan NTT. Meski demikian, si pembuat gerabah masih bisa berusaha menyeimbangkan suara dengan cara ngeplak atau mengetok. ’’Itu (mengetok, Red) supaya rapet tanahnya. Jadi, suara yang keluar lebih kenthel,’’ tambah Jumali.
Setiap pawang (pemusik) sudah dianggap memiliki tangan yang cocok untuk bermain. Secara indra, memukul langsung dengan telapak tangan akan membuat si pemain lebih sensitif. Dengan begitu, dia bisa merasakan tekanan yang harus diberikan agar iramanya pas. Maka, pemainnya pun harus bisa menyelaraskan intuisi.
Grup musik gerabah itu terdiri atas enam personel plus Jumali. Namun, jumlah tersebut tidak paten. Setiap personel bisa memainkan lebih dari satu alat musik secara bergantian. Biasanya, gerabah disandingkan dengan sapek atau sape (alat musik petik suku Dayak, Kalimantan), seruling, dan harmonika.
Itu tampak saat mereka, grup musik etnik Wayang Wolak-Walik, tampil pada Jumat (10/11) di pelataran Studio Tedja Suminar Jalan Lapangan Dharmawangsa.
Kala itu sorot dua lampu kuning membingkai panggung sederhana yang dibuat sangat dekat dengan para penonton. Sebagian penonton memilih lesehan tanpa alas. Yang lainnya duduk di kursi-kursi plastik berwarna hijau.
Degup gerabah yang bersahutan berpadu harmonis dengan petikan sape. Lalu, melodi mengalir lewat harmonika dan seruling. Aransemen dilakukan secara mengalir dan spontan. ’’Seperti orang jagongan (nongkrong, Red). Sahut-menyahut,’’ kata Lik Ju.
Alunan musik pun terdengar beriringan. Syahdu dan menenangkan. Sebab, nada-nada minor yang dihasilkan memang kerap digunakan sebagai meditasi.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
