Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 21 November 2017 | 14.20 WIB

Jumali dan Suara Alam Musik Etnik dari Gerabah

KREATIF: Jumali atau yang akrab di sapa Lik Jum (tengah) memainkan alat musik yang terbuat dari gerabah. - Image

KREATIF: Jumali atau yang akrab di sapa Lik Jum (tengah) memainkan alat musik yang terbuat dari gerabah.

Sesuatu yang tidak dapat ditebak justru jadi daya tarik. Suara magis yang keluar dari sebuah gerabah menorehkan warna baru hingga musik terasa nikmat. Kepekaan indra dan cara si pemain turut ambil bagian.


ASA WISESA BETARI, Surabaya


SEPERTI manusia, tidak ada gerabah yang terlahir sama. Masing-masing punya karakteristik sendiri. Begitu pun manusia yang menyentuhnya. Beda tangan, beda rasa, beda tekanan, beda suara. Ketidakpastian tersebut justru menjadi sifat alamiah yang ditimbulkan gerabah yang menjadi alat musik.


Suara dengung dan degup timbul dari udara yang bergerak saat tangan menepuk lubang di sisi samping gerabah. Penciptanya adalah Jumali, 50, alias Lik Ju. ’’Lebih magis dan etnik,’’ ujar pria kelahiran Malang itu tentang musiknya.


Sembilan gerabah, generasi kelima yang lahir dari tangan Jumali, punya ’’pawangnya’’ masing-masing. Ke-9 gerabah itu juga memiliki ukuran dan bentuk yang berbeda-beda. Diameternya beragam. Yakni, 20–40 sentimeter.


Di sampingnya terdapat satu lubang berukuran 5–10 sentimeter. Lubang kecil itulah yang dipukul untuk menghasilkan suara yang merambat dan keluar dari leher gerabah. ’’Kalau seumpama gamelan, ini ketuk kenongnya,’’ tambahnya. Di studionya yang berada di Malang, Lik Ju juga punya beberapa gerabah yang dimodifikasi menggunakan senar. Cara memainkannya dipetik.


Gerabah adalah peranti yang dibuat dengan tahap berlapis. Mulai mencampurkan adonan tanah, membentuk, membakar, hingga menjemur. Dari puluhan gerabah yang dibuat, tidak ada yang menghasilkan karakter suara yang persis. Walaupun bentuk, ukuran, hingga ketebalannya plek sama.


Faktornya beragam. Salah satunya, jenis tanah liat untuk adonan. Tanah pegunungan jelas beda dengan tanah pesisir. ’’Kalau ada teman yang di luar kota, saya sering titip tanah dari sana,’’ tuturnya.


Lik Ju memiliki beberapa gerabah yang dibuat dengan menggunakan tanah dari beberapa daerah di Sumatera, Kalimantan, Bali, dan NTT. Meski demikian, si pembuat gerabah masih bisa berusaha menyeimbangkan suara dengan cara ngeplak atau mengetok. ’’Itu (mengetok, Red) supaya rapet tanahnya. Jadi, suara yang keluar lebih kenthel,’’ tambah Jumali.


Setiap pawang (pemusik) sudah dianggap memiliki tangan yang cocok untuk bermain. Secara indra, memukul langsung dengan telapak tangan akan membuat si pemain lebih sensitif. Dengan begitu, dia bisa merasakan tekanan yang harus diberikan agar iramanya pas. Maka, pemainnya pun harus bisa menyelaraskan intuisi.


Grup musik gerabah itu terdiri atas enam personel plus Jumali. Namun, jumlah tersebut tidak paten. Setiap personel bisa memainkan lebih dari satu alat musik secara bergantian. Biasanya, gerabah disandingkan dengan sapek atau sape (alat musik petik suku Dayak, Kalimantan), seruling, dan harmonika.


Itu tampak saat mereka, grup musik etnik Wayang Wolak-Walik, tampil pada Jumat (10/11) di pelataran Studio Tedja Suminar Jalan Lapangan Dharmawangsa.


Kala itu sorot dua lampu kuning membingkai panggung sederhana yang dibuat sangat dekat dengan para penonton. Sebagian penonton memilih lesehan tanpa alas. Yang lainnya duduk di kursi-kursi plastik berwarna hijau.


Degup gerabah yang bersahutan berpadu harmonis dengan petikan sape. Lalu, melodi mengalir lewat harmonika dan seruling. Aransemen dilakukan secara mengalir dan spontan. ’’Seperti orang jagongan (nongkrong, Red). Sahut-menyahut,’’ kata Lik Ju.


Alunan musik pun terdengar beriringan. Syahdu dan menenangkan. Sebab, nada-nada minor yang dihasilkan memang kerap digunakan sebagai meditasi.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore