Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 19 September 2017 | 02.40 WIB

Mengintip Pengoperasian Tank Leopard 2 Milik TNI-AD

KENDARAAN TEMPUR: Para pelajar berpose di tank leopard yang dipamerkan di Koarmatim, Surabaya. - Image

KENDARAAN TEMPUR: Para pelajar berpose di tank leopard yang dipamerkan di Koarmatim, Surabaya.

Salah satu kendaraan tempur yang tampil pada pameran alat utama sistem persenjataan (alutsista) di Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) adalah tank Leopard 2. Jawa Pos mendapat kesempatan melihat bagaimana mengoperasikan tank buatan Jerman itu.


THORIQ S. KARIM, Surabaya


TANK Leopard 2 buatan Jerman itu memang gagah. Bodinya lebih lebar, lebih berbobot. Juga, tank itu disebut-sebut lebih canggih jika dibandingkan dengan kendaraan baja sejenisnya. Kemampuan menembaknya serta perangkatnya yang modern membuat Leopard 2 menjadi favorit dalam latihan atau pertempuran.


Meski begitu, interiornya terasa sempit. Terlebih, seluruh dinding kendaraan itu adalah baja. Udara di dalam pun cukup panas. Bisa jadi, tidak ada orang yang tahan berlama-lama di dalam kendaraan tersebut saat mesin mati. ”Saya yang sudah lama sebagai pengemudi tidak kuat dengan panasnya,” ujar Praka Eko Widodo.


Eko adalah salah satu di antara empat awak tank Leopard 2 itu. Selain dia, ada Serda Tegar selaku komandan kendaraan, penyedia amunisi atau loader Prada Yulianto, dan penembak Pratu Tri Widodo. ”Kami berempat mendapat amanah ngopeni kendaraan ini,” ujarnya. Eko, yang kelahiran Lumajang, sudah hampir setahun mengemudikan tank tersebut.


Dia lantas menjelaskan bagian per bagian tank itu. Pintu masuk tank berada di permukaan paling atas. Ada dua pintu masuk yang berbentuk lingkaran dengan diameter 80 sentimeter.


Lubang kiri adalah ruang untuk penyedia amunisi atau loader. Ruangan itu sempit, hanya cukup untuk dua orang dengan posisi berdiri. Di dinding bagian belakang, terdapat rak. Lalu, di bagian tengah terdapat besi berbentuk tabung. ”Loader akan mengambil amunisi dari rak dan memasukkannya ke tabung itu,” papar Eko.


Rak tersebut mampu menampung 15 amunisi kaliber 120 milimeter. Juga, risiko memasukkan amunisi itu cukup besar. Bisa dibayangkan, dalam pertempuran kondisi tidak setenang saat berada di markas. Suara bergemuruh. Medan terjal membuat tank bergoyang.


Untuk mengambil amunisi dengan berat lebih dari 10 kilogram itu, prajurit harus berhati-hati. ”Meleset, jatuh, bisa meledak di dalam tank,” ungkap Prada Yulianto.


Namun, pengalaman buruk itu belum pernah terjadi. Loader sudah dilatih untuk tetap tenang. Dia selalu mengikuti perintah komandan kendaraan. Begitu ada perintah siapkan amunisi, peran mulai dilaksanakan. ”Saya ambil, pasang, dan menunggu perintah selanjutnya,” katanya.


Peran pengemudi yang dijalankan Eko menempati ”pos” di ujung kanan depan tank. Untuk masuk ke ruang itu, prajurit harus berposisi setengah tidur. Maklum, ruangan cukup sempit. ”Jangan dibayangkan seperti mengemudi kendaraan,” kata Eko.


Memang duduk di posisi pengemudi tank tidak senyaman di kursi sopir kendaraan pada umumnya. Posisi kaki mengarah ke depan. Ada dua pedal, yakni gas dan rem. Tidak ada pedal kopling karena tank Leopard menggunakan sistem matik. Bentuk kemudi juga mirip setir mobil balap F1. Di depannya, terdapat spidometer, penunjuk bahan bakar, GPS, serta monitor.


Juga, pandangan pengemudi tidak sebebas sopir mobil. Kalau tank tidak berada dalam posisi perang, kepala pengemudi bisa muncul. Sebab, dalam kondisi itu, laras tank sedang dimiringkan ke kiri sekitar 30 derajat. ”Kalau tidak dimiringkan, kepala saya tidak bisa muncul,” ucapnya.


Pada posisi tempur, kepala pengemudi tidak bisa muncul. Sebab, laras tank harus lurus dan sesekali bermanuver 360 derajat. Karena itu, kepala harus berada di dalam badan tank. Nah, Eko mengandalkan beberapa celah berukuran 5x10 sentimeter di bawah laras itu. ”Saya mengintip,” kata dia.


Sang pengemudi sebenarnya juga bisa mengandalkan kamera di depan tank. Namun, cara itu jarang digunakan. Sebab, tampilan hanya memperlihatkan sudut depan. Sisi kiri dan kanan tank tidak bisa terlihat. ”Saya tidak leluasa mengemudi,” jelas dia.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore