
PANJANG UMUR: Thea Susetia Kusumo menunjukkan novel yang diselesaikannya pada usia 80 tahun.
Thea Susetia Kusumo genap berusia 80 tahun 2 Desember lalu. Perayaan dilakukan di Restoran The Biliton Sabtu (3/12). Acara tersebut dibarengi dengan peluncuran buku ketiga Thea berjudul Bimo. Thea gemar menulis setelah menderita osteoporosis pada Januari 2013.
SALMAN MUHIDDIN
OSTEOPOROSIS. Penyakit kerapuhan tulang itu benar-benar mengubah hidup Thea 180 derajat. Tidak bisa mengajar. Jalan-jalan pagi pun sulit. Dosen bahasa Inggris di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu hanya bisa rebahan.
’’Terus, saya jadi bengong. Akhirnya, saya mencoba menulis karena gerak terbatas,’’ kata Thea yang duduk di depan puluhan tamu. Sebagian besar tamu adalah dosen, pensiunan dosen, dan murid-murid Thea.
Meski fisiknya sudah melemah, semangat Thea tidak terbendung untuk melakukan aktivitas. Perempuan berambut pendek itu memang dikenal lincah dan tidak bisa diam.
Meski pensiun sejak Januari 2002, dia tetap mengajar di Unesa sebagai dosen honorer hingga 2012. Untuk mengisi semangatnya, Thea memilih menulis. Buku pertama adalah memoarnya.
Ketika penulisan baru start, dia harus menjalani operasi panggul. Itu membuatnya kian sulit bergerak. Tak urung, buku itu rampung. Saat umurnya sudah 77 tahun.
Dan Thea hanya butuh empat bulan untuk merampungkan buku. Dua tahun kemudian, Thea mencoba menulis novel. Judulnya Endang. Kisahnya tentang perempuan yang menjalani kepahitan hidup pada 1965.
Saat itu belum banyak perempuan yang mengenyam pendidikan tinggi. Mereka akhirnya dipaksa menjadi perempuan penghibur.
Nah, Thea lantas ditantang anak dan menantunya. Mengapa tidak menulis soal Papa? ’’Ah, saya tidak berani. Takut salah. Saya tidak ngerti soal politik,’’ ucap perempuan berbibir tipis itu.
Papa yang dimaksud anak-anak Thea adalah Gatut Kusumo Hari. Tokoh sosialis, penulis film Soerabaia 45, sekaligus mantan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) yang terlibat di peristiwa perang 10 November.
Thea merasa bahwa dirinya bukanlah sosok istri yang baik. Dia sibuk dengan kegiatan mengajarnya. Karena itu, dia tidak banyak tahu apa saja aktivitas suaminya.
Namun, diam-diam Thea mulai menyusun rencana menulis. Dia banyak membaca buku sejarah. Salah satunya tentang Sutan Sjahrir, pendiri Partai Sosialis Indonesia (PSI).
Suaminya merupakan salah seorang tokoh PSI. Dari buku itulah, dia tahu soal politik yang pernah diceburi suaminya.
Peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) 1974 membuat Gatut dipenjara. Peristiwa demonstrasi mahasiswa antimodal asing itu berbuntut dengan dibuinya tokoh-tokoh PSI tanpa alasan yang jelas.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
