Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 6 Desember 2016 | 04.55 WIB

Thea Susetia Kusumo yang Me-Launching Novel Kedua pada Usia 80 Tahun

PANJANG UMUR: Thea Susetia Kusumo menunjukkan novel yang diselesaikannya pada usia 80 tahun. - Image

PANJANG UMUR: Thea Susetia Kusumo menunjukkan novel yang diselesaikannya pada usia 80 tahun.

Thea Susetia Kusumo genap berusia 80 tahun 2 Desember lalu. Perayaan dilakukan di Restoran The Biliton Sabtu (3/12). Acara tersebut dibarengi dengan peluncuran buku ketiga Thea berjudul Bimo. Thea gemar menulis setelah menderita osteoporosis pada Januari 2013.





SALMAN MUHIDDIN





OSTEOPOROSIS. Penyakit kerapuhan tulang itu benar-benar mengubah hidup Thea 180 derajat. Tidak bisa mengajar. Jalan-jalan pagi pun sulit. Dosen bahasa Inggris di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu hanya bisa rebahan.



’’Terus, saya jadi bengong. Akhirnya, saya mencoba menulis karena gerak terbatas,’’ kata Thea yang duduk di depan puluhan tamu. Sebagian besar tamu adalah dosen, pensiunan dosen, dan murid-murid Thea.



Meski fisiknya sudah melemah, semangat Thea tidak terbendung untuk melakukan aktivitas. Perempuan berambut pendek itu memang dikenal lincah dan tidak bisa diam.



Meski pensiun sejak Januari 2002, dia tetap mengajar di Unesa sebagai dosen honorer hingga 2012. Untuk mengisi semangatnya, Thea memilih menulis. Buku pertama adalah memoarnya.



Ketika penulisan baru start, dia harus menjalani operasi panggul. Itu membuatnya kian sulit bergerak. Tak urung, buku itu rampung. Saat umurnya sudah 77 tahun.



Dan Thea hanya butuh empat bulan untuk merampungkan buku. Dua tahun kemudian, Thea mencoba menulis novel. Judulnya Endang. Kisahnya tentang perempuan yang menjalani kepahitan hidup pada 1965.



Saat itu belum banyak perempuan yang mengenyam pendidikan tinggi. Mereka akhirnya dipaksa menjadi perempuan penghibur.



Nah, Thea lantas ditantang anak dan menantunya. Mengapa tidak menulis soal Papa? ’’Ah, saya tidak berani. Takut salah. Saya tidak ngerti soal politik,’’ ucap perempuan berbibir tipis itu.



Papa yang dimaksud anak-anak Thea adalah Gatut Kusumo Hari. Tokoh sosialis, penulis film Soerabaia 45, sekaligus mantan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) yang terlibat di peristiwa perang 10 November.



Thea merasa bahwa dirinya bukanlah sosok istri yang baik. Dia sibuk dengan kegiatan mengajarnya. Karena itu, dia tidak banyak tahu apa saja aktivitas suaminya.



Namun, diam-diam Thea mulai menyusun rencana menulis. Dia banyak membaca buku sejarah. Salah satunya tentang Sutan Sjahrir, pendiri Partai Sosialis Indonesia (PSI).



Suaminya merupakan salah seorang tokoh PSI. Dari buku itulah, dia tahu soal politik yang pernah diceburi suaminya.



Peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) 1974 membuat Gatut dipenjara. Peristiwa demonstrasi mahasiswa antimodal asing itu berbuntut dengan dibuinya tokoh-tokoh PSI tanpa alasan yang jelas.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore