
KIPRAH INTERNASIONAL: Dwiki Dharmawan di Lembaga Pendidikan Musik Farabi, Bintaro, Tangerang Selatan.
Terekam dalam benaknya suasana di Pasar Klewer yang tak cuma diwarnai transaksi jual beli. Tapi, juga kuat nuansa kulturalnya. Album yang direkam di Studio EastCote London itu memang sangat kuat nuansa persilangan budaya. Atau bisa dibilang sebuah karya jazz multikultural. Elemen tradisional Indonesia dipertemukan dengan musik Barat.
Sound-nya sangat kaya. Ada slendro, angklung, saksofon, klarinet, dan banyak instrumen lainnya yang berpadu apik. Lagu Tjampuhan, misalnya, menggunakan gamelan gong kebyar dan semar pegulingan Bali dengan komposer gamelan I Nyoman Windha.
Sedangkan dalam komposisi Pasar Klewer dan Lir Ilir, nuansanya gamelan Jawa. ”Komposer gamelannya Aris Daryono yang tinggal di London. Vokal Lir Ilir diisi sinden Peni Candrarini,” urai Dwiki.
Ke-11 komposisi dalam Pasar Klewer itu direkam dalam dua hari. Ada yang durasinya 9 menit, 11 menit, bahkan hampir 13 menit. Yang paling panjang Pasar Klewer (12 menit 14 detik) serta Tjampuhan (12 menit 58 detik).
Pasar Klewer kali pertama dimainkan di Bali World Music Festival pada Desember 2015. Sambutan audiens luar biasa.
Dan, begitu begitu dirilis resmi pada November 2016, pujian, lewat review di berbagai platform, langsung datang dari berbagai penjuru dunia. Di antaranya, AS, Cile, Paraguay, Bolivia, Kroasia, Italia, dan Brasil. ”Surprise dan haru. Karena berarti musik saya dibeli dan didengar di seluruh dunia, di negara-negara yang akarnya bukan jazz,” ungkap ayah seorang putra tersebut.
Karena sifatnya proyek, yang berarti terbuka untuk diisi musisi mana saja dan dari mana saja, tiap kali mengusung Pasar Klewer ke panggung, Dwiki biasa bergonta-ganti kolaborasi. Itu juga sejalan dengan keterbukaan terhadap segala anasir musik yang jadi prinsip bermusik Dwiki selama ini. ”Karena itulah jazz. Musik jazz itu musik yang punya banyak surprise di dalamnya,” paparnya.
Keteguhan Dwiki di jalur jazz yang kuat unsur etniknya telah merentang sekitar tiga dekade. Bukan pilihan yang mudah sebenarnya. Sebab, siapa pun tahu, itu jalur yang sulit ”dijual”.
Tapi, Dwiki berhasil bertahan dan mendapat pengakuan luas. Yang bisa dibuktikan, antara lain, lewat pergaulan musikalnya yang melintas batas-batas negara. ”Instrumen musik pertama yang saya kenal itu gamelan, sebelum piano. Saya biasa memainkan bonang, angklung,” ujarnya.
Bagi dia, keragaman musikal Indonesia itu mengagumkan. Dari Sabang sampai Merauke bisa jadi sumber inspirasi yang tak ada habisnya. ”Musik tradisional, menurut saya, bukan music from the past, justru merupakan future of music,” ucap musisi berdarah darah Sunda dan Jawa tersebut.
Obsesinya adalah mengangkat berbagai kekayaan musik Indonesia ke pentas musik internasional. Itulah yang mendorongnya membawa Krakatau ke arah ethno setelah banyak bermain di wilayah fusion jazz.
Ketika Krakatau Ethno vakum pada awal 1990-an pun, Dwiki tetap bersiteguh dengan jalur pilihannya itu. ”Ada kebahagiaan tersendiri di mana saya merasa punya jati diri yang kuat ketika bersanding dengan teman-teman musisi dari berbagai negara,” ungkapnya.
Keteguhan itulah yang diapresiasi Pavkovic. ”Dwiki merupakan musisi besar yang memiliki racikan tersendiri untuk membawa musiknya ke ranah global,” ujar Pavkovic. Dia mengenal musik Dwiki sejak 2003. Kemudian, keduanya mulai melakukan penjajakan pada 2008. Dan, akhirnya bekerja sama menggarap album Dwiki pada 2015.
Itu pula yang membuat Pavkovic sangat yakin saat menjodohkan Dwiki dengan para musisi Inggris dan Italia yang akhirnya menghasilkan Pasar Klewer. ”Saya melihat ada sisi genius dalam diri Dwiki yang masih tersembunyi dan harus digali. Dipertemukan dengan musisi-musisi lain yang juga visioner seperti Asaf Sirkis, Mark Wingfield, jelas itu kombinasi yang hebat,” paparnya.
Kini, setelah sukses dengan Pasar Klewer, kolaborasi Dwiki dengan Pavkovic berlanjut. Mereka sudah merekam dua album di Spanyol. Salah satunya album yang mempertemukan jazz dengan progressive rock serta elemen etnik. Album itu rencananya dirilis pada Mei 2018.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
