Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 7 Agustus 2017 | 23.30 WIB

Deny Lucky, Perajin Miniatur Taman di Dalam Gentong

KREASI SENDIRI: Deny Lucky memecahkan dinding gentong sebelum membentuk miniatur taman pada bagian dalamnya. - Image

KREASI SENDIRI: Deny Lucky memecahkan dinding gentong sebelum membentuk miniatur taman pada bagian dalamnya.

Di tangannya, gentong bukan hanya wadah untuk menampung air. Dia menyulapnya menjadi kerajinan tangan yang harganya bisa mencapai belasan juta rupiah.


Hasti Edi Sudrajat, Sidoarjo


SEKILAS perawakannya terlihat sangar. Badannya gempal. Cambangnya panjang. Sekujur tubuhnya juga dipenuhi tato. Mulai tangan sampai kaki. Meski begitu, sikapnya sangat ramah ketika Jawa Pos bertandang ke tempat tinggalnya. Deny Lucky, nama pria itu, adalah perajin miniatur taman di dalam gentong.


’’Baru selesai kerja bakti. Diminta orang-orang melukis gapura. Memeriahkan Agustusan,’’ kata pria yang tinggal di Karanggayam Pelabuhan, Pucang Anom, Sidoarjo, tersebut.


Beberapa saat berselang, dia mengeluarkan gentong besar di dalam galeri. Butuh bantuan tiga orang untuk memindahkannya ke luar ruangan. Gentong setinggi 1,2 meter dan berdiameter 70 sentimeter itu memiliki berat lebih dari 50 kilogram. ’’Harganya Rp 800 ribu,’’ terangnya. Dia membelinya dari seorang perajin di Mojoagung, Jombang.


Dengan palu, dia memukul dinding gentong hingga berlubang. Belum cukup ’’merusak’’, bapak empat anak tersebut meraih tang. Deny mencatut sisi dinding gentong yang berlubang tadi. Lama-kelamaan lubangnya menjadi lebih besar. ’’Lubang ini yang akan jadi akses membuat miniatur taman di dalam gentong,’’ ungkapnya.


Bungsu dari empat bersaudara itu sudah lama menjadi perajin miniatur taman di dalam gentong. Karya pertamanya dibuat ketika duduk di kelas X. ’’Kenal seni relief kali pertama waktu melihat kuli bangunan merenovasi rumah saudara,’’ jelas pria kelahiran 1981 tersebut.


Waktu itu, Deny tertarik melihat kuli bangunan yang cekatan membentuk relief air terjun pada dinding rumah. Karena penasaran, dia mencoba untuk membuat miniatur air terjun sendiri di kolam ikan rumah. ’’Rampung kira-kira satu minggu. Model taman tiga dimensi. Enak dilihat. Gemericik air membuat pikiran adem,’’ ungkapnya.


Deny tak lantas berpuas diri. Dia merasa tertantang untuk membuat miniatur air terjun dengan menggunakan media lain. Pilihannya jatuh pada gentong. ’’Idenya tiba-tiba terlintas begitu saja,’’ tuturnya. Gentong milik tetangganya menjadi sarana uji coba. Meskipun dibuat dengan ilmu yang didapat secara otodidak, hasilnya sangat detail. Miniatur taman itu dilengkapi dengan surau, jembatan, sungai, dan burung-burung.


Tak muluk-muluk, gentong berisi miniatur taman tersebut diletakkan Deny di ruang tamu rumahnya. Di luar dugaan, karyanya itu ditawar seorang tamu. ’’Gara-gara melihat miniatur taman itu, dia ingat dengan kampung halaman,’’ tuturnya. Gentong itu dihargai sekitar Rp 500 ribu. Deny pun untung Rp 350 ribu.


Meski begitu, Deny yang saat itu masih aktif sebagai vokalis dan gitaris di band indie bergenre ska punk belum kepikiran untuk menjadikannya mata pencaharian. ’’Di sela-sela ngeband tetap membuatnya. Tetapi, jadinya lama karena jarang meluangkan waktu secara khusus,’’ terangnya.


Pada pertengahan 2011, petaka menghampiri. Deny yang akrab dengan dunia malam dibekuk polisi karena kepemilikan ganja. Dia divonis enam tahun penjara dan dijebloskan ke Lapas Pamekasan, Madura. Otomatis dia vakum dari band. ’’Menyesal sekali. Di dalam selalu introspeksi. Ingin mencari cara agar ketika keluar bisa hidup lebih baik,’’ tutur pria yang punya nama panggung Tuwek itu.


Gairah untuk membuat kerajinan pun kembali muncul. Deny menyulap taman lapas yang kurang terawat menjadi sedap dipandang. Bahkan, kemampuannya tersebut dilirik petugas lapas. Deny diminta membimbing narapidana (napi) lain yang ingin belajar membuat kerajinan tangan. ’’Beberapa kali juga ikut pameran di luar lapas,’’ jelasnya.


Setelah menghirup udara bebas pada 2016, Deny memilih meninggalkan total dunia lamanya. Dia ingin menekuni kerajinan miniatur taman di dalam gentong. Empat buah hatinya yang tumbuh besar menjadi motivasi terkuat Deny. Apalagi, harga jual karyanya ternyata cukup lumayan.


’’Harga bergantung detail. Mulai Rp 800 ribu sampai Rp 12 juta. Mayoritas yang beli orang Bali. Banyak kenalan lama di sana,’’ tandasnya.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore