Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 3 Desember 2016 | 01.50 WIB

Pengorbanan Yessy Misdiana; Delapan Tahun Dampingi Puluhan Penderita Kanker

KENANGAN: Yessy (kanan) bersama Hajar (kiri) menunjukkan foto almarhum Kasiami. Mereka sama-sama kehilangan nenek karena kanker. - Image

KENANGAN: Yessy (kanan) bersama Hajar (kiri) menunjukkan foto almarhum Kasiami. Mereka sama-sama kehilangan nenek karena kanker.

Dibutuhkan hati superkuat untuk menjadi relawan. Lebih-lebih relawan kanker. Yessy Misdiana merasakan bagaimana dicaci maki hingga diusir. Padahal, dia menolong.





ARIF ADI WIJAYA





SUATU pagi di awal Oktober, Yessy bersiap menuju Domas, Kecamatan Menganti, dari rumahnya di Pongangan, Manyar. Jaraknya sekitar 20 kilometer. Dia akan mengunjungi seorang pasien kanker payudara.



Tiba di rumah pasien, bukan sambutan hangat yang diterimanya. Dia ditanya macam-macam. Pasien bernama Rameni itu curiga, dari mana Yessy tahu dirinya mengidap kanker payudara.



’’Yang tahu kan hanya keluarga dan dokter,’’ katanya menirukan ucapan Rameni. Yessy diam. Perlahan, dia lantas memperkenalkan diri. ’’Saya relawan kanker, Bu,’’ ucapnya.



Perempuan 37 tahun itu mengaku mulanya hanya mendapat informasi ada penderita kanker yang kondisinya tergolong parah. Rumahnya ada di Domas. Setelah itu, dia mencari-cari.



’’Ternyata orangnya Ibu Rameni,’’ ungkap relawan asal Surabaya tersebut. Mereka pun akrab. Setelah itu, Yessy dan Rameni sering bercanda.



Seperti sudah kenal lama. Di sela canda, Yessy menguatkan motivasi Rameni. Juga menyelipkan penjelasan soal kanker.



Kondisi Rameni memang mengundang trenyuh. Dia telah menjalani operasi pengangkatan payudara sebelah kiri. Namun, kanker menyebar ke payudara sebelah kanan.



Rameni tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan, ibu tiga anak itu tidak mau kontrol sama sekali setelah operasi pada 14 September.



Yessy lantas membantu Rameni berobat ke RSUD Ibnu Sina. Oleh dokter, dia disarankan menjalani terapi sinar di RSAL dr Ramelan, Surabaya, pada 12 Oktober.



Biaya berobat gratis. Rameni tercatat sebagai peserta BPJS penerima bantuan iuran (PBI). Sampai sekarang, pendampingan tetap berjalan.



Rameni sebenarnya hanya satu di antara banyak penderita kanker yang dekat dengan Yessy. Mulai kanker payudara, serviks, hingga otak.



’’Teman saya banyak dari kegiatan bakti sosial. Jika ada penderita kanker, pasti dikasih tahu,’’ ujarnya. Selama menjadi relawan sejak 2008, dia kenyang dicaci maki orang.



Penderita kerap tidak mau diganggu. Kondisi mereka sakit. Apalagi, Yessy sering dianggap orang lain yang tidak dikenal. Tiba-tiba saja datang berkunjung.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore