Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 5 Agustus 2017 | 00.05 WIB

Ke Krayan, Kampung Halaman Adan, Beras Langka yang Diklaim Malaysia

BERAS “ENDEMIK” KRAYAN: Beras Adan dari Krayan memiliki tiga varietas, yaitu putih, merah, dan hitam. Di Malaysia, beras ini dijual mahal dan dilabeli made in Malaysia. - Image

BERAS “ENDEMIK” KRAYAN: Beras Adan dari Krayan memiliki tiga varietas, yaitu putih, merah, dan hitam. Di Malaysia, beras ini dijual mahal dan dilabeli made in Malaysia.

Para petani Krayan tak punya pilihan selain menjual beras Adan mereka kepada tengkulak Malaysia yang rajin berburu dari pintu ke pintu. Jalur darat dari dan menuju kawasan di Kalimantan Utara itu hanya bisa lewat negeri jiran.


M. AZRUL-M. ERWINSYAH, Nunukan


DI plastik pembungkusnya tertulis made in Malaysia. Di salah satu pusat perbelanjaan di Sarawak itu, per kilogram beras yang terbungkus plastik tersebut dihargai RM 26.


Jika dirupiahkan, sekitar Rp 78 ribu. Sangat mahal. Hampir empat kali lipat jika dibandingkan dengan harga beras tersebut di kampung asalnya, Krayan, yang hanya 20 ribu.


Ya, kendati ditulisi made in Malaysia, Adan adalah beras ”endemik” Krayan. Krayan merupakan wilayah di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, yang langsung berbatasan dengan Sarawak, salah satu negara bagian Malaysia.


Dulu hanya ada satu kecamatan di kawasan yang dibentengi Taman Nasional Kayan Mentarang itu: Krayan. Tapi, kini dimekarkan jadi lima, yaitu Krayan, Krayan Barat, Krayan Tengah, Krayan Timur, dan Krayan Selatan.


”Klaim dari Malaysia itu jelas sangat merugikan petani Indonesia di Krayan,” kata Koordinator Penyuluh Pertanian dan Peternakan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP), Nunukan, Heru Wihartopo kepada Radar Nunukan (Jawa Pos Group).


Tapi, apa boleh buat, penelusuran Radar Nunukan ke Krayan hingga masuk wilayah Malaysia, petani setempat memang tak punya pilihan selain menjual produk mereka ke negeri jiran. Pemicunya, apalagi kalau bukan soal akses dan transportasi.


Krayan, seperti banyak wilayah perbatasan lain, bisa dibilang adalah ”anak tiri” Indonesia. Akses dari semua wilayah Indonesia ke Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan cuma bisa lewat udara. Termasuk dari Nunukan.


Itu pun calon penumpang harus memesan tiket pesawat sebulan sebelumnya. Menggunakan pesawat Hevilift yang sudah bekerja sama dengan Pemkab Nunukan melalui program subsidi ongkos angkut (SOA), Krayan bisa dicapai dalam sejam penerbangan.


Pilihan lain dari Long Bawan, pusat pemerintahan Krayan, jika ingin ke Nunukan harus lewat wilayah Malaysia. Jalur darat, melalui Sarawak, menuju Tawau di Sabah. Dilanjutkan angkutan laut menuju Nunukan.


Menurut Camat Krayan Helmi Pudaaslikar, pihaknya sebenarnya sudah tanpa henti meminta agar infrastruktur di wilayahnya diperbaiki. Tapi, sampai sekarang tak ada hasil.


”Sampai kapan mau menunggu? Lima hingga puluhan tahun ke depan belum tentu ada. Apakah ini bakal terus terjadi,” ujar Kepala Desa Long Katung (salah satu desa di Krayan) Ervan secara terpisah.


Dengan kondisi seperti itu, tak mengherankan kalau 99 persen kebutuhan sembako di Krayan dipasok dari Malaysia. Termasuk empat kecamatan lain.


Pilihan bagi warga Krayan untuk menjual hasil bumi otomatis hanya ke wilayah Malaysia yang bisa dijangkau dari darat. Lebih murah, lebih efisien. Apalagi, banyak tengkulak dari Malaysia yang berburu langsung dari pintu ke pintu ke Krayan.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore