Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 2 September 2017 | 02.30 WIB

Generasi Mata Biru, Satu Dekade Lebih setelah Tsunami Aceh

TAK MERASA BERBEDA: Muzakir (kiri, foto kiri) dan kedua putrinya, Rauzatul Jannah (kanan) dan Nurul Qomariyah. - Image

TAK MERASA BERBEDA: Muzakir (kiri, foto kiri) dan kedua putrinya, Rauzatul Jannah (kanan) dan Nurul Qomariyah.

Di tiap desa di Aceh Jaya, kini rata-rata hanya tersisa satu keluarga generasi mata biru. Yang tersisa pun umumnya tak tahu riwayat nenek moyangnya. Berikut laporan wartawan Jawa Pos EKO PRIYONO yang baru kembali dari Aceh Jaya.


SEPEDA motor itu melintas cepat, tapi dengan segera menarik perhatian. Sebab, ciri fisik kedua gadis yang menaikinya tampak berbeda.


”Itu orangnya. Aku yakin itu,” kata Zainal, warga Banda Aceh yang menemani Jawa Pos untuk menelusuri jejak keturunan Portugis di Aceh Jaya pada Sabtu dua pekan lalu (19/8).


Sekilas, dua gadis itu memang terlihat berbeda jika dibandingkan dengan warga Aceh pada umumnya. Berkulit putih dengan hidung yang lebih mancung.


Juga, di tengah kebingungan kami sepanjang hari untuk menemukan jejak generasi mata biru, petunjuk sekilas itu sudah lebih dari cukup untuk membangkitkan semangat lagi. Sebab, sebelumnya, sepanjang perjalanan dari Banda Aceh ke Aceh Jaya sejauh 85 kilometer, jejak keturunan Portugis antara ada dan tidak ada.


Padahal, Aceh Jaya, persisnya Lamno, Kecamatan Jaya, dulu merupakan pusat bermukimnya generasi mata biru. Namun, sebelum melihat kelebatan dua gadis itu, hanya sosok Pak Puteh yang terdengar sebagai keturunan Portugis yang tersisa. Itu juga bukan nama asli. Alamatnya juga tak pasti.


Zainal pun segera memacu mobil, mengejar dua gadis itu. Mereka memang tidak sedang kabur. Tapi melaju cukup cepat. Semakin kewalahan ketika mereka masuk ke jalan kampung dengan permukaan tanah.


Sampai akhirnya mereka menghilang di salah satu persimpangan jalan. Dari papan penunjuk jalan, tertera bahwa itu Dusun Tuan Saheh, Desa Lamme, Kecamatan Jaya.


Kawasan tersebut cukup padat. Jarak antarrumah sangat dekat. Hanya dipisahkan pekarangan kecil. Terkadang antarrumah dibatasi pagar tanaman setinggi pinggang orang dewasa. Ada bangunan rumah warga yang permanen, ada pula semipermanen. Ada juga rumah adat berbentuk panggung yang berbahan kayu.


Celingak-celinguk mencari dua gadis itu pada akhirnya membuat kami dipandang sejumlah warga dengan heran. Untung, Zainal bisa segera menetralkan keadaan dengan berkomunikasi menggunakan bahasa Aceh. Tak lupa, dia menanyakan gadis bermata biru di daerah tersebut. ”Sebentar lagi ketemu. Ada namanya Pak Muzakir,” kata Zainal dengan mata berbinar.


Benar saja. Sekitar 100 meter kemudian, ada tujuh pria paro baya yang sedang membangun pagar balai RW. Juga, salah seorang di antara mereka adalah Muzakir.


Muzakir merupakan satu-satunya pria di Desa Lamme yang masih terlihat seperti bule. Kulitnya putih, agak berbulu. Matanya agak biru kecokelatan. Dia penduduk asli desa tersebut. Kawasan itu cukup jauh dari pesisir sehingga aman dari tsunami yang menghajar Aceh pada 26 Desember 2004.


Sejumlah foto lawas ditempel di salah satu sisi dinding kayu ruang tamu rumah panggung Muzakir. Yang paling menonjol adalah tiga lembar foto ukuran jumbo.


Tampak dua di antara tiga anaknya yang memang ”sangat Eropa”. Seluruh rambut mereka pirang. Kulit mereka putih. Mereka juga memiliki alis tipis dengan bulu mata berwarna terang.


Rasa penasaran itu terbayarkan saat Muzakir muncul di ruang tamu rumah panggungnya bersama dua anak perempuannya. Dua gadis itulah yang melintas dengan sepeda motor sebelumnya.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore