
Jasman saat menerima piala Kalpataru dari Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Siak, Provinsi Riau Tahun 2016 lalu
Bisa jadi, Jasman,43, adalah satu dari sedikit sarjana di Indonesia yang justru memilih pulang ke kampung halamannya daripada berburu pekerjaan di kota setelah setelah mendapatkan ijasah. Ia justru peduli pada lingkungannya di Nagari Paninggahan, Kecamatan Junjung Siriah, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Kepeduliannya itu akhirnya mampu mendorong masyarakat menyelamatkan sekitar 800 hektare lahan kritis di seputar Danau Singkarak. Pemerintahpun memberinya penghargaan Kalpataru pada tahun 2016, kategori pengabdi lingkungan. Seperti apa perjalanannya?
Laporan : Riki Chandra, Sumbar
Berawal dari keprihatinannya melihat ketergantungan masyarakat terhadap sumber mata air di Koto Baru Tambak, Nagari Paninggahan, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Kala itu, sumber mata air satu-satunya bagi kampung terbendung sebatang pohon beringin besar yang tumbang. Pohon itu tumbang lantaran dibakar warga. Akibatnya, air untuk kebutuhan sehari-hari ribuan warga sekitar kian kecil dan nyaris hilang.
Ketersediaan air makin kritis. Hal itu juga diperparah dengan kondisi lingkungan sekitar yang kian tandus. Sedikitnya, sekitar 1.700 hektare lahan kritis terdapat di Nagari seputar Danau Singkarak saat itu. Lahan kritis di sepanjang tepi danau terluas kedua di Sumatera itu juga mencapai 38.000 hektare "Jarangnya pohon di lahan-lahan kritis ini jelas berdampak pada keberadaan mata air di Nagari Paninggahan dan sekitar Danau Singkarak," kata Jasman kepada JawaPos.com, Selasa (23/2).
Padahal, lanjut Sarjana Agama IAIN Imam Bonjol Padang tahun 1999 itu, tidak sedikit jumlah penduduk yang menggantungkan hidup dengan sumber mata air tersebut. Setidaknya ada 2/3 dari sekitar 3.200 KK Nagari Paninggahan bergantung pada sumber mata air itu.
Melihat kondisi itu, mantan mahasiswa pecinta alam ini merasa terpanggil membantu masyarakat sekitarnya. Lalu Jasman berinisiatif menanam sebanyak 500 batang pohon jati yang dibawanya dari kota Padang tahun 1999. Bibit tersebut diperolehnya dari salah seorang direktur Bank di Kota Padang, yang tertarik pada aktivitas Jasman.
Lalu pada tahun 2000, langkah kecilnya itu mendapat respon positif dari tokoh perantau. Kebetulan tokoh perantau itu seorang direktur di salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang permodalan. Tokoh tersebut bersedia membantu sebanyak 5.000 batang pohon jati. ''Bibit pohon jati untuk ditanam ditanam di kawasan mata air Tambak Paninggahan," kenang ayah tiga orang anak itu.
Setelah bibit didapatkan, Jasman mulai mengajak masyarakat bersama-sama menanam pohon di sekeliling sumber mata air. Tak sedikit dari warga yang akhirnya turut menyumbang bibit pohon jati untuk ditanami di sekitar mata air.
Kini, setelah kawasan Danau Singkarak dikelilingi pepohonan jati yang tumbuh subur, masyarakat sekitar tidak lagi mengeluhkan kesulitan air. Bahkan, saat musim kemarau panjang hingga 7 bulan, kawasan Paninggahan tak lagi kekurangan air. "Sampai hari ini, tanaman itu terjaga. Termasuk dari jarahan oknum tak bertanggungjawab," bebernya.
Setelah empat tahun fokus melakukan penghijauan di sekitar mata air Tambak, mantan Walinagari ini tak lantas berpuas diri. Pada tahun 2003, Jasman berinisiatif melakukan penghijauan dengan cakupan lebih besar. Cita-citanya tak lain untuk memperkecil jumlah lahan kritis agar bisa dimanfaatkan masyarakat.
Untuk itulah Jasman menginisiasi lahirnya Gerakan Sejuta Pohon (GERTAPON). Dalam gerakan ini, ia melibatkan agggota kwartir ranting pramuka kecamatan Junjung Sirih, Kabupaten Solok. Dalam tempo waktu tiga tahun, GERTAPON berhasil menanam 100.00 aneka bibit pohon pada sekitar 100 hektare lahan kritis. "GERTAPON ini langsung direspon dan dicanangkan wakil Gubernur kala itu. Kegiatan ini didukung penuh warga selingkaran danau Singkarak, hingga lembaga Internasional. Buktinya, bantuan bibit pohon berdatangan dari berbagai pihak. Mulai tingkat daerah, provinsi, hingga Nasional," ujarnya.
Melihat gebrakan dan kepeduliannya terhadap lingkungan, tahun 2006, Jasman mendapat amanah menjadi wali Nagari Paninggahan dalam usia yang masih 32 tahun. Menjadi pemimpin di kampung halaman semakin membuat semangat penghijauannya bergelora. Pada tahun itu juga, Jasman mengenal lembaga Internasional Reachet Agro Forestry (ICRAF) yang memintanya menjadi narasumber khusus penghijauan di area Singkarak. Kegiatan tersebut juga dihadiri beberapa LSM internasional, termasuk pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Dari pertemuan itu, Jasman direkomendasikan mendapat bantuan bibit pohon dari Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI). Sedikitnya, 25 hektare lahan kritis siap ditanami. Laju penghijauan di Nagari Paninggahan semakin meluas. Dalam kurun waktu antara tahun 2006 hingga 2010, kawasan kritis di Paninggahan seluas 400 hektare telah berhasil ditanami pohon. Penanaman itu juga dibantu lembaga non pemerintah dari luar negeri.
Bantuan bibit dari pemerintah dan berbagai instansi lainnya terus mengalir. Paling tidak, hampir 900 hektare di kawasan bukit Batu Agung di Nagari Paninggahan telah ditanami pohon. "Lahan-lahan itu juga ditanami pohon produktif milik masyarakat. Seperti cengkeh, coklat, alpokat, durian, mahoni, surian, petai, dan sebagainya," terang mantan wali nagari terbaik kabupaten Solok tahun 2007 itu.
Keberhasilannya merubah paradigma masyarakat atas lingkungan itu, hingga mau bersama-sama menghijaukan lahan kritis, membawa Jasman makin dikenal tidak hanya pemerhati lingkungan nasional tapi juga internasional. Pada tahun 2009, Jasman dipercaya KLHK menjadi narasumber Konferensi Danau Indonesia di Bali. "Saya ikut menjadi peserta perancang Perpres tentang jasa lngkungan oleh KLHK," kenangnya bangga.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
