Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 9 Juni 2026 | 03.12 WIB

Ketegangan Geopolitik Memanas, Harga Minyak Berpotensi Naik Tajam hingga USD 170

Forum Ekonomi Global SPIEF 2026 soroti eskalasi geopolitik global terhadap harga minyak dunia. (Istimewa). - Image

Forum Ekonomi Global SPIEF 2026 soroti eskalasi geopolitik global terhadap harga minyak dunia. (Istimewa).

JawaPos.com - Harga minyak dunia berpotensi melonjak tajam dalam beberapa bulan hingga tahun ke depan akibat ketegangan geopolitik, gangguan pasokan global, dan kemungkinan sanksi baru terhadap Rusia. Sejumlah pelaku industri energi dan ekonom internasional bahkan memperkirakan harga minyak dapat menembus level USD 170 per barel dalam skenario terburuk.

Bagi Indonesia, proyeksi tersebut bukan sekadar isu pasar energi global. Kenaikan harga minyak berisiko meningkatkan biaya impor migas, memperlebar defisit perdagangan energi, menambah tekanan inflasi, hingga memperbesar beban subsidi dan kompensasi energi yang ditanggung pemerintah.

Prediksi tersebut mengemuka dalam Panel Energi yang menjadi bagian dari St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026, forum ekonomi tahunan yang mempertemukan pembuat kebijakan, pelaku bisnis, akademisi, dan tokoh publik untuk membahas berbagai isu strategis ekonomi global.

Selat Hormuz Jadi Faktor Penentu Harga Minyak

CEO Rosneft sekaligus Sekretaris Eksekutif Komisi Kepresidenan Rusia untuk Pengembangan Strategis Sektor Bahan Bakar dan Energi serta Keamanan Lingkungan, Igor Sechin, menilai dinamika pasar minyak dalam jangka menengah akan sangat ditentukan oleh situasi di Selat Hormuz.

Menurut Sechin, jika berbagai pembatasan yang muncul akibat konflik geopolitik dapat dicabut pada akhir 2026, harga minyak rata-rata berpotensi berada di kisaran US$95 hingga USD 96 per barel. Namun, pemulihan pasokan energi global tidak akan terjadi secara instan.

"Pemulihan pasokan akan membutuhkan waktu dan investasi yang signifikan," kata Sechin melalui keterangannya.

Dalam skenario tersebut, harga minyak dalam satu tahun ke depan diperkirakan bertahan pada kisaran USD 80 hingga USD 85 per barel. Adapun pada paruh kedua 2027, pasar diprediksi mulai kembali bergerak berdasarkan fundamental ekonomi dan keseimbangan pasokan-permintaan.

Sanksi Baru terhadap Rusia Bisa Dorong Harga Minyak Meroket

Sechin juga mengingatkan bahwa pasar energi dapat menghadapi lonjakan harga yang jauh lebih ekstrem apabila negara-negara Barat kembali memperketat sanksi terhadap ekspor minyak Rusia. Menurutnya, tambahan sanksi berpotensi mendorong harga minyak naik drastis.

"Tambahan USD 100 akan ditambahkan ke level USD 150–160," lanjutnya.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore