Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 5 Juni 2026 | 17.27 WIB

Krisis Energi Dorong Jepang Berburu Minyak Goreng Bekas untuk Bahan Bakar Pesawat

Seorang pekerja menuangkan minyak goreng bekas yang dikumpulkan dari restoran Tempura Ten-ichi ke dalam tangki penampungan di Tokyo, Jepang, 22 April 2026. Minyak jelantah tersebut akan diolah menjadi sustainable aviation fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan. (Kim Kyung-Hoon/REUTERS) - Image

Seorang pekerja menuangkan minyak goreng bekas yang dikumpulkan dari restoran Tempura Ten-ichi ke dalam tangki penampungan di Tokyo, Jepang, 22 April 2026. Minyak jelantah tersebut akan diolah menjadi sustainable aviation fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan. (Kim Kyung-Hoon/REUTERS)

JawaPos.com – Jepang semakin gencar mengumpulkan minyak goreng bekas dari rumah tangga demi memenuhi target penggunaan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).

Dilansir Kyodo, Jumat (5/6), upaya itu dilakukan di tengah meningkatnya tekanan pasokan energi akibat konflik Iran dan kebutuhan Jepang untuk mengurangi emisi karbon dari sektor penerbangan.

Salah satu warga yang ikut berkontribusi adalah Watanabe, yang setiap tahun menyumbangkan sekitar 40 liter minyak goreng bekas hasil aktivitas memasaknya.

Minyak tersebut dikumpulkan melalui jaringan supermarket yang tergabung dalam proyek kolaborasi pemerintah dan swasta bertajuk "Fry to Fly".

Jepang menargetkan 10 persen kebutuhan bahan bakar pesawat pada 2030 berasal dari sumber berkelanjutan. Untuk mencapai target tersebut, negara itu memperkirakan membutuhkan sekitar 1,7 juta kiloliter SAF pada 2030.

Namun, produksi SAF domestik saat ini baru mencapai sekitar 30.000 kiloliter atau hanya 0,3 persen dari total konsumsi bahan bakar jet nasional.

Dalam presentasi bersama pada Mei lalu, dua maskapai terbesar Jepang, ANA dan Japan Airlines (JAL), mengakui tantangan yang dihadapi semakin berat.

"Kami menghadapi kenyataan yang jauh lebih keras dari perkiraan," ungkap kedua maskapai tersebut.

SAF dianggap sebagai salah satu solusi utama untuk menurunkan jejak karbon industri penerbangan yang selama ini menjadi penyumbang besar emisi gas rumah kaca.

Namun, biaya produksi yang tinggi serta keterbatasan bahan baku membuat pengembangannya berjalan lambat.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore