Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 1 Juni 2026 | 03.15 WIB

Listrik Sumatera kembali Normal usai Blackout, DEN Beberkan Alasan Recovery Harus Ekstra Hati-hati

Kondisi listrik padam di Jalan Soebrantas Panam Pekanbaru, Jumat (22/5/2026).(EVAN GUNANZAR/RIAUPOS.CO) - Image

Kondisi listrik padam di Jalan Soebrantas Panam Pekanbaru, Jumat (22/5/2026).(EVAN GUNANZAR/RIAUPOS.CO)

JawaPos.com - Proses pemulihan sistem kelistrikan Sumatera pascagangguan transmisi interkoneksi menuntut penanganan yang super hati-hati. Langkah bertahap wajib diambil demi menjaga stabilitas pasokan listrik agar kembali normal tanpa memicu risiko fatal.

Mengingat jaringan interkoneksi Sumatera membentang hingga ribuan kilometer dan melibatkan banyak pembangkit, proses pemulihan yang relatif cepat ini dinilai menjadi bukti penanganan yang cukup berhasil di lapangan.

Mengapa Pemulihan Listrik Interkoneksi Tidak Bisa Instan?

Memulihkan sistem kelistrikan berskala besar ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), M Kholid Syeirazi, menegaskan bahwa seluruh komponen sistem yang lumpuh harus disinkronkan kembali secara stabil.

"Pemulihan sistem kelistrikan skala besar memang harus dilakukan penuh kehati-hatian. Yang dikejar bukan sekadar cepat menyala, tetapi memastikan sistem kembali normal secara aman dan andal," ujar Kholid dalam keterangannya, Minggu (31/5).

Dalam sistem interkoneksi, indikator utama keseimbangan antara daya pembangkit dan beban pelanggan terletak pada kestabilan frekuensi. Jika gangguan besar membuat sejumlah pembangkit lepas dari sistem, frekuensi akan merosot tajam dan berpotensi memicu efek domino yang lebih parah.

"Kalau recovery dilakukan terlalu cepat tanpa sinkronisasi yang tepat, risikonya frekuensi kembali turun dan memicu pembangkit lepas lagi dari sistem. Itu yang harus dihindari," jelasnya.

Risiko Agresif: Ancaman Blackout Susulan

Oleh karena itu, petugas di lapangan harus melakukan pemulihan secara bertahap dan terukur. Langkah ini krusial agar sinkronisasi antar-pembangkit tetap terjaga, baik dari segi frekuensi, tegangan, hingga sudut fasa sistem.

Jika proses pemulihan dilakukan terlalu agresif, ketidakseimbangan antara pasokan listrik dan beban justru bisa berakibat fatal. Nyawa dari sistem interkoneksi Sumatera ini bertumpu pada stabilitasnya.

"Dalam sistem interkoneksi sebesar Sumatera, stabilitas sistem menjadi prioritas utama. Recovery bertahap justru diperlukan agar sistem benar-benar pulih secara aman," katanya.

Tantangan Teknis Pembangkit Listrik PLTU

Alasan lain di balik lamanya proses pemulihan adalah karakteristik dari pembangkit thermal seperti PLTU. Jenis pembangkit ini memerlukan waktu ekstra untuk bisa kembali masuk ke dalam sistem kelistrikan Sumatera.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore