
ILUSTRASI: Suasana pemadaman listrik. Blackout Sumatera menimbulkan kerugian ekonomi sangat besar. Tak cukup ditebus hanya dengan kompensasi PLN. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Masyarakat dinilai jauh lebih membutuhkan sistem kelistrikan yang andal dan bebas gangguan ketimbang sekadar menerima kompensasi pascabencana mati lampu total (blackout). Indonesian Resources Studies (IRESS) menyoroti sikap pemerintah yang kerap hanya mengandalkan kompensasi sebagai 'permintaan maaf'.
Dampak blackout berskala besar sangat masif karena langsung melumpuhkan aktivitas ekonomi, layanan publik, hingga kehidupan sehari-hari warga di berbagai daerah. Alasan inilah yang membuat evaluasi menyeluruh terhadap sistem kelistrikan, khususnya di wilayah Sumatra, menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.
Direktur IRESS Marwan Batubara menegaskan, ganti rugi finansial bukanlah solusi utama yang diharapkan publik. "Yang paling dibutuhkan masyarakat sebenarnya adalah kepastian bahwa kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Karena kalau blackout terus berulang, kerugian masyarakat akan jauh lebih besar dibanding kompensasi yang diterima," ujarnya, dikutip Minggu (31/5).
Secara regulasi, pemerintah memang sudah mengatur mekanisme ganti rugi bagi konsumen yang terdampak pemadaman listrik. Pelanggan pascabayar akan mendapatkan pengurangan tagihan, sementara pengguna prabayar menerima tambahan token gratis sesuai dengan tingkat mutu pelayanan PLN.
Merujuk pada aturan yang berlaku, besaran kompensasi berkisar antara 20 persen hingga 35 persen dari biaya beban atau rekening minimum. Potongan ini nantinya akan diperhitungkan pada tagihan bulan berikutnya atau saat pembelian token baru.
Meski skema ini sudah berjalan, Marwan menilai kebijakan tersebut belum mampu menggantikan kerugian riil masyarakat di lapangan. Langkah ini dinilai hanya sekadar peredam dampak jangka pendek.
Penerapan kompensasi dalam sistem kelistrikan tentu mengikuti aturan dan hasil evaluasi penyebab gangguan yang terjadi. "Namun yang paling dibutuhkan masyarakat saat ini adalah memastikan blackout besar tidak kembali terulang," katanya.
Lebih lanjut, Marwan mengingatkan bahwa pemadaman total dalam skala luas merupakan kondisi yang merugikan semua pihak. Tidak hanya membebani masyarakat, operasional sistem kelistrikan PLN sendiri pun ikut terganggu secara signifikan.
Oleh karena itu, fokus utama manajemen kelistrikan nasional harus diarahkan pada perbaikan fundamental, bukan sekadar membagikan ganti rugi saat masalah sudah terjadi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Prediksi Skor Udinese vs Venezia di Coppa Italia: Sang Zebra Kecil Berpeluang Menang di Friuli!
Prediksi Skor Palermo vs Mantova di Coppa Italia: Rosanero Siap Libas Tim Tamu di Renzo Barbera
Kasus Penipuan Rp 3,5 Miliar Dihentikan Usai Ruben Onsu Berdamai dengan Pelapor
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Manajemen Buka Suara Usai Ikang Fawzi Dikabarkan Menikah Lagi
Obligasi Danantara: Dana Murah Pembangunan yang Rentan TPPU?
35 Santri Keracunan MBG Masih Dirawat di RS Siti Hajar Sidoarjo
Prediksi Skor Laos U-20 vs Timnas Indonesia U-20: Garuda Muda Berpeluang Pesta Gol!
Prediksi Sassuolo vs Frosinone di Coppa Italia 2026/2027: Jay Idzes Cs Menang Susah Payah
