
Ilustrasi minyak goreng. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung menilai kenaikan harga minya goreng tidak hanya dipengaruhi oleh naiknya harga minyak dunia akibat perang di Iran. Menurutnya, kenaikan harga plastik juga turut menyumbang lonjakan harga.
Tungkot mengatakan, penutupan Selat Hormuz di tengah konflik Timur Tengah mengakibatkan pasokan bahan baku terganggu. Akibatnya kenaikan harga produk turunan energi fosil seperti plastik tak bisa dihindari.
"Harga energi fosil dunia meningkat dari sekitar USD 60 per barel sebelum perang menjadi lebih dari USD 110 per barel. Akibatnya, semua produk turunan dari energi fosil seperti plastik mengalami kenaikan," kata Tungkot di Jakarta, Sabtu (25/4).
Kondisi ini memiliki dampak langsung kepada masyarakat. Terlebih Indonesia menjadi salah satu negara konsumsi minyak goreng tertinggi di dunia.
Baca Juga:Komisi B DPRD DKI Soroti Efektivitas Belanja, Kemandirian BUMD, hingga Kualitas Layanan Publik
Tungkot menjelaskan, ada tiga jenis minyak goreng sawit yang dikonsumsi oleh masyarakat di dalam negeri, yakni minyak goreng sawit (MGS) kemasan premium dengan berbagai merek, MGS MinyaKita dengan segmen masyarakat berpendapatan rendah dan UMKM, serta MGS curah untuk industri pangan.
Dari ketiga jenis minyak goreng sawit tersebut, pemerintah bisa mengendalikan harga dan ketersediaan MGS MinyaKita. Sedangkan MGS premium dan curah dikendalikan oleh pasar.
"Harga dan ketersediaan MGS MinyaKita ini dikendalikan pemerintah melalui kebijakan DMO (domestic market obligation), pengendalian penyaluran (D1, D2), dan HET (harga eceran tertinggi)," imbuhnya.
Sejauh ini kenaikan harga terlihat pada kategori Dalam periode Januari 2026-minggu ke-3 April 2026, harga MGS premium naik dari Rp 21.166 per liter menjadi Rp 21.793 per liter. Kemudian harga MGS curah naik dari Rp 17.790 per liter menjadi Rp 19.486 per liter.
"Hal yang menarik, harga MGS Minyakita pada periode yang sama justru turun dari Rp 16.865 menjadi Rp 15.949 per liter, mendekati HET Rp 15.700 per liter," jelasnya.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
