
Ilustrasi kapal nelayan saat sandar. (Istimewa)
JawaPos.com - Kabar buruk bagi ribuan nelayan tradisional di Sumatera Utara dan Aceh. Bencana banjir bandang yang melanda wilayah ini pada November 2025 kini memicu krisis solar di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan SPBUN.
Selama sepekan terakhir, para nelayan mengeluh kesulitan mendapatkan bahan bakar solar untuk melaut. Kuota solar di SPBU dilaporkan berkurang drastis, mengancam mata pencaharian mereka.
Dewan Pengurus Wilayah Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (DPW KNTI) Sumatera Utara, M. Isa Al-Basir, membenarkan situasi genting ini. Ia menduga hambatan distribusi akibat bencana menjadi penyebab utama kelangkaan.
"Nelayan kesulitan mengakses solar, kondisinya di SPBU kuotanya berkurang. Barangkali ini dampak dari bencana banjir, sehingga distribusi BBM ke sejumlah SPBU dan SPBUN tempat dimana nelayan mengakses BBM terdampak. Seperti di Kota Medan, kemungkinan pasokan dari Dumai tidak bisa masuk ke SPBU terdekat dengan kampung nelayan karena akses jalan rusak dan terputus," ujar Basir dalam keterangannya.
Tak hanya jalur darat, jalur laut pun ikut terganggu. Gelombang tinggi menghambat kapal pengangkut BBM untuk bersandar di pelabuhan-pelabuhan Sumatera Utara, memperparah masalah pasokan BBM ke daerah pesisir.
Selain masalah solar, cuaca ekstrem juga meningkatkan risiko keselamatan nelayan. Basir mencontohkan insiden yang dialami anggotanya.
"Begitupun di Deli Serdang kapal nelayan tenggelam, ataupun di Pangkalan Brandan Langkat kapal nelayan hanyut oleh ombak hingga ke Serdang Bedagai. Nasib sama juga bagi nelayan kecil di Batubara, alhasil mereka memilih untuk tidak melaut," imbuhnya.
Kondisi ini memaksa banyak nelayan kecil memilih untuk tidak melaut. Mereka terperangkap antara kebutuhan bahan bakar dan ancaman keselamatan jiwa di laut.
Kesulitan akses solar bersubsidi sebenarnya bukan isu baru. Ketua Umum Kesatuan Pelajar Pemuda dan Mahasiswa Pesisir Indonesia (KPPMPI) Hendra Wiguna menilai infrastruktur yang minim menjadi akar masalah.
Minimnya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum untuk Nelayan (SPBUN) dan distribusi yang sulit dari Terminal BBM (MOR Pertamina) membuat nelayan akhirnya bergantung pada pengecer.
"Persoalan BBM subsidi terutama solar masih menjadi PR besar sejak dahulu. Akibatnya, nelayan terpaksa membeli ke pengecer dengan harga Rp 10.000–15.000 per liter, yang penting mereka bisa melaut," jelas Hendra.
Hendra menekankan perlunya pembangunan SPBUN di lebih dari 12 ribu desa pesisir di Indonesia. Langkah ini dinilai krusial agar nelayan kecil mendapatkan solar bersubsidi secara merata dan terjangkau, tanpa harus bergantung pada pengecer mahal.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Prediksi Skor Genoa vs Sudtirol di Coppa Italia: Grifone Berburu Gol di Stadio Ferraris
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Bursa Skor Shamal vs Al Ittihad di Liga Champions Asia, Peluang Tim Tamu Kuasai Tanah Arab
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Espanyol di Liga Spanyol: Misi Berat Emil Audero di Kandang
Prediksi Skor Villarreal vs Real Betis di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Sebut MBG Tak Bermasalah, Sudaryono: Yang Bikin Ramai Guru, Ortu, Wartawan, Hingga LSM
Prediksi Skor Reading vs Brentford di Carabao Cup: The Bees Bakal Sengat Tuan Rumah
Prediksi Skor Torino vs Roma di Liga Italia: Giallorossi Siap Obrak-abrik Markas Il Toro

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022