Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 6 September 2022 | 00.04 WIB

Harga BBM Naik, Subsidi Tetap Bisa Bengkak jadi Rp 653 T, Kok Bisa?

Petugas mengubah papan harga BBM di SPBU Senen, Jakarta, Sabtu (3/9/2022). Pemerintah menetapkan harga Pertalite dari Rp 7.650 per liter menjadi Rp10 ribu per liter, Solar subsidi dari Rp 5.150 per liter jadi Rp 6.800 per liter, Pertamax nonsubsidi naik d - Image

Petugas mengubah papan harga BBM di SPBU Senen, Jakarta, Sabtu (3/9/2022). Pemerintah menetapkan harga Pertalite dari Rp 7.650 per liter menjadi Rp10 ribu per liter, Solar subsidi dari Rp 5.150 per liter jadi Rp 6.800 per liter, Pertamax nonsubsidi naik d

JawaPos.com - Anggaran subsidi dan kompensasi energi tahun 2022 diprediksi tetap membengkak melebihi Rp 502,4 triliun meskipun harga bahan bakar minyak (BBM) sudah dinaikkan. Angka Rp 502,4 triliun tersebut dihitung berdasarkan rata-rata Indonesia Crude Price (ICP) yang bisa mencapai USD 105 per barel dengan kurs 14.700 per dollar AS, ditambah volume Pertalite yang diperkirakan akan mencapai 29 juta kiloliter (KL) dan volume Solar bersubsidi yaitu 17,44 juta KL.

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara memaparkan, jika ICP turun ke USD 90 per barel, maka rata-rata satu tahun ICP mencapai USD 99 per barel. Kemudian, kalapun ICP turun lagi di bawah USD 90 barel, maka rata-rata satu tahun ICP masih di USD 97 per barel.

Dengan perhitungan ini, maka anggaran subsidi dan kompensasi energi masih akan tetap naik melebihi Rp 502,4 triliun. Jika rata-rata ICP USD 99 per barel, maka anggaran subsidi dan kompensasi energi Rp 653 triliun.

Jika rata-rata ICP USD 85 per barel, maka anggaran subsidi dan kompensasi energi sebesar Rp 640 triliun. "Kebutuhan subsidi masih membutuhkan Rp 650 triliun, dan masih di atas Rp 502,4 triliun kemarin," kata Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara kepada wartawan di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (5/9).

Suahasil menjelaskan, nilai subsidi yang tinggi itu didasarkan pada tiga hal. Pertama, harga minyak mentah dunia. Kedua, nilai tukar rupiah. Ketiga, penambahan kuota atau volume BBM subsidi, yakni jenis Pertalite dan Solar hingga akhir tahun 2022.

Menurutnya, meningkatnya subsidi ini disebabkan karena harga minyak mentah dunia yang masih tertahan tinggi yang diikuti dengan tren konsumsi masyarakat yang melebihi proyeksi awal tahun.

Selain itu, dia menyebut nilai tukar rupiah terhadap dolar cenderung melemah. Kurs tahun ini berada di angka 14.750 per dollar AS, atau lebih tinggi dari asumsi awal 14.400 per dollar AS.

"Beberapa bulan yang lalu kita mengestimasi kalau harga minyak dunia seperti ini, kalau kursnya seperti ini dengan kuota 23 juta untuk Pertalite dan 15 juta untuk Solar itu menjadi Rp 502 triliun (tenyata melebihi)," jelasnya.

Sebelumnya, pemerintah resmi menaikkan harga BBM subsidi dan nonsubsidi pada Sabtu (3/9). Kenaikan harga BBM tersebut diumumkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif di Istana Kepresidenan, Jakarta.

Dia merinci, harga Pertalite berubah menjadi Rp 10.000 dari sebelumnya Rp 7.650 per liter, sementara untuk Solar menjadi Rp 6.800 dari sebelumnya Rp 5.150 per liter. Sedangkan Pertamax dari Rp 12.500 menjadi Rp 14.500 per liter.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore