Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 2 Maret 2019 | 20.35 WIB

Perlukah Masyarakat Segera Beralih dari Gas ke Listrik? Ini Kata Pakar

Ilustrasi masyarakat menggunakan kompor listrik beralih dari gas - Image

Ilustrasi masyarakat menggunakan kompor listrik beralih dari gas

JawaPos.com - Masyarakat saat ini mulai didorong untuk mengalihkan konsumsi energinya dari penggunaan migas ke listrik untuk kebutuhan rumah tangganya. Pengalihan pola konsumsi energi oleh masyarakat tersebut tergantung dua hal, yakni aspek ketersediaan dan keterjangkauan.


Pada dasarnya, konsumen tidak mempermasalahkan, apakah menggunakan energi berbasis migas ataupun listrik, sepanjang dua aspek tersebut terpenuhi. Hal itu ditegaskan Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi.


“Saat ini konsumen belum memikirkan apakah sumber energinya berasal dari batubara, migas, ataukah bagian dari energi baru terbarukan (EBT). Yang penting, energinya harus tersedia dan terjangkau,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (2/3).


Menurut Fahmy, akan ada sejumlah manfaat yang diperoleh masyarakat, apabila nantinya pengalihan pola konsumsi ini terjadi. Misalnya saat terjadi migrasi ke mobil listrik.


“Manfaat langsung yang dirasakan konsumen, terutama karena yang digunakan energi listrik, termasuk energi bersih (clean energy). Ini dimungkinkan, mengingat ada sebagian masyarakat yang mulai sadar lingkungan. Maka di sini energi listrik menjadi pilihan, seperti halnya mobil listrik dan kompor listrik (induksi)," paparnya.

Ke depan pengalihan pola konsumsi energi masyarakat ke listrik akan terjadi, namun yang penting lagi, asalkan terjamin ketersediaan dan keterjangkauannya. Menurutnya, perubahan memang tidak bisa terjadi secara total dan cepat, melainkan secara bertahap.


"Tapi yang jelas, dengan adanya perpindahan pola konsumsi energi, akan penghematan. Jadi misal pemerintah memberikan subsidi solar, lalu subsidinya dialihkan kepada mobil listrik, maka otomatis akan mengurangi subsidi solar," ungkap Fahmi.


Juga, terjadi penghematan beban energi yang ditanggung APBN. Selain itu, impor BBM akan jauh berkurang. Itu sebabnya pemerintah harus mendorong peralihan dari kendaraan yang menggunakan energi berbasis fuel kepada berbasis listrik, dan juga penggunaan kompor listrik (kompor induksi).


Pakar ketenagalistrikan dan Guru Besar FT-UI Professor Iwa Garniwa mengemukakan hal senada. Misalnya penggunaan kompor listrik untuk memasak, manfaatnya lebih bersih (ramah lingkungan) dibandingkan menggunakan energi migas.


"Karena migas masih membakar dan menghasilkan emisi. Sementara pembangkit listrik yang ada saat ini, adalah PLTU yang lebih sedikit menggunakan batu bara dan sangat minim emisi yang diakibatkan," tuturnya.

Namun kalau ditinjau dari segi harga, apakah listrik lebih murah dengan harga yang ada sekarang, dia tidak bisa menjawab secara pasti. Lima tahun lalu saat dia melakukan riset memasak satu objek yang sama dengan gas dan listrik, memang lebih murah, memakai listrik. Sekarang harga listrik sudah berbeda.

“Jika pemerintah memutuskan menaikkan atau menurunkan harga migas, bisa jadi harganya lebih mahal atau murah perbandingannya, antara memasak menggunakan bahan bakar migas atau listrik. Jadi penetapan harga itu relatif sifatnya,” papar Anggota Panitia Akreditasi Ketenagalistrikan, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, Kementerian ESDM ini.


Sementara itu bicara tentang langkah apa yang harus ditempuh PLN dan pemerintah untuk mengkonversi pola konsumsi energi konsumen/masyarakat dari bahan migas ke energi listrik, maka Iwa menyarankan agar sistem PLN harus disiapkan untuk mendukung peralihan tersebut.

“Seandainya kondisi existing rumah di satu komplek rata-rata 1.300 watt. Maka kalau beralih ke kompor listrik yang 1000 watt, bisa jadi ketersediaan listrik di rumahnya berkurang, apalagi saat terjadi beban puncak," jelasnya.

Jadi sistem PLN harus dibangun, untuk mempersiapkan konversi pola konsumsi energi masyarakat dari migas ke listrik. Terutama PLN harus mengevaluasi struktur jaringannya kalau terjadi peningkatan beban puncak, sehingga harus jauh-jauh hari dipersiapkan.

"Selanjutnya jika hal tersebut sudah dilakukan, maka PLN dan pemerintah tinggal mensosialisasikan ke masyarakat, misalnya penggunaan listrik itu aman dan harganya terjangkau. Dengan demikian aspek sosialisasi menjadi lebih mudah,” tutur Iwa. (Marieska)

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore