
Ilustrasi Program BBM satu harga sangat membantu masyarakat di daerah terluar
JawaPos.com - Program BBM Satu Harga yang dicanangkan pemerintah sejak 2015 hampir rampung. Jika tak ada aral, program ini bakal tercapai 100 persen pada Juni mendatang. Bagi masyarakat di wilayah tertinggal, terluar dan terdepan atau 3T, BBM Satu Harga sangat penting. Salah satunya, Kabupaten Seruyan Kalimantan Tengah.
"Program ini memang diidam-idamkan masyarakat sejak dulu, tidak hanya di Kalimantan Tengah tetapi juga daerah terpencil lain di Indonesia seperti Papua, Maluku Utara, Maluku dan sebagainya,” kata HM Asera, anggota Komisi B DPRD Kalimantan Tengah dalam keterangan resmi, Jumat (8/2).
Salah satu hasil yang diperoleh dari program BBM Satu Harga adalah penghematan pengeluaran. Dikatakan Asera, kini warga tidak lagi terbebani dengan biaya BBM yang sebelumnya sangat tinggi. Sebelumnya, warga membeli BBM dengan harga Rp 12.000 per liter.
Dengan penghematan tersebut akhirnya bisa dialihkan ke pos pengeluaran lain, termasuk pendidikan. Menurut Asera, hal itu menjadi positif. Dulu masyarakat Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah tidak pernah berpikir menyekolahkan anak mereka hingga perguruan tinggi.
Tetapi sekarang kondisi berubah. Seakan berlomba-lomba, warga menyekolahkan putra-putri mereka ke jenjang perguruan tinggi, bahkan sampai ke Pulau Jawa.
“Banyaknya warga yang menyekolahkan anak hingga kuliah merupakan dampak sangat positif dari BBM Satu Harga," ujarnya.
Rusmanto, tokoh masyarakat Desa Telaga Pulang Kecamatan Danau Sembuluh membenarkan bahwa BBM Satu Harga berpengaruh besar terhadap berbagai sektor, termasuk pendidikan. Jika sebelumnya paling banter warga hanya menyekolahkan anak mereka pada bangku SMA, sekarang sudah tak terhitung yang kuliah.
“Di desa ini hanya ada dua SMA, yaitu SMA Tirta Bakti dan SMA Tunas Harapan. Dulu setelah lulus SMA, ya selesai. Tetapi sekarang banyak sekali yang kuliah, bahkan sampai ke Banjarmasin dan Jawa,” kata Rusmanto.
Banyaknya warga yang melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, kata Rusmanto, karena beban warga jauh berkurang. Jika sebelumnya membeli BBM dengan harga Rp 12 ribu, misalnya, sekarang sudah sama dengan harga di Pulau Jawa.
Fenomena itu sendiri, menurut Rusmanto, memang tak lepas dari keinginan warga agar anaknya bisa bekerja di berbagai perusahaan kelapa sawit di sekitar Danau Sembuluh, dengan posisi lebih baik.
"Warga sini sebenarnya sudah banyak yang bekerja di perusahaan. Tetapi kalau ingin langsung sebagai staf memang harus S-1. Makanya, jurusan yang dipilih kebanyakan adalah Pertanian atau Komputer,” kata Rusmanto.
Dengan melanjutkan pendidikan hingga menjadi lulusan perguruan tinggi, maka kesempatan warga untuk dapat bekerja di berbagai perusahaan perkebunan kelapa sawit sebagai karyawan kelas satu di Kabupaten Seruyan pun menjadi lebih terbuka lebar.
Pasalnya, selama ini mereka kebanyakan hanya bekerja sebagai karyawan kelas tiga alias tenaga kasar.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
