Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 12 Juli 2022 | 19.12 WIB

Eropa Cemas Penutupan Pipa Gas Rusia Berlangsung Lebih lama

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Pipa tunggal terbesar yang membawa gas Rusia ke Jerman menjalani pemeliharaan tahunan pada Senin (11/7). Tetapi negara-negara Eropa khawatir penutupan jalur gas yang semula direncanakan selama 10 hari mungkin diperpanjang karena perang di Ukraina.

Pipa Nord Stream 1 mengangkut 55 miliar meter kubik gas per tahun dari Rusia ke Jerman di bawah Laut Baltik. Pemeliharaan rencananya berlangsung dari 11 hingga 21 Juli 2022.

Operator Nord Stream AG mengonfirmasi penutupan dimulai sesuai rencana pada 0600 CET atau pukul 11.00 WIB. Aliran gas akan turun ke nol beberapa jam kemudian.

Bulan lalu, Rusia memotong 40 persen aliran dari total kapasitas pipa, dengan alasan keterlambatan pengembalian peralatan yang dilayani oleh Siemens Energy Jerman di Kanada. Kanada mengatakan pada akhir pekan akan mengembalikan turbin yang diperbaiki, tetapi juga mengatakan akan memperluas sanksi terhadap sektor energi Rusia.

Eropa khawatir Rusia dapat memperpanjang pemeliharaan terjadwal untuk membatasi pasokan gas Eropa lebih lanjut, mengacaukan rencana untuk mengisi penyimpanan untuk musim dingin. Ini akan meningkatkan krisis gas yang telah mendorong tindakan darurat dari pemerintah dan tagihan yang sangat tinggi bagi konsumen.

Menteri Ekonomi Jerman Robert Habeck mengatakan, negara itu harus menghadapi kemungkinan bahwa Rusia akan menangguhkan aliran gas melalui Nord Stream 1 di luar periode pemeliharaan yang dijadwalkan.

"Berdasarkan pola yang telah kita lihat, tidak akan terlalu mengejutkan sekarang jika beberapa detail teknis kecil ditemukan dan kemudian mereka bisa mengatakan 'Sekarang kita tidak bisa menyalakannya lagi'" kata Habeck dikutip dari Antara malenasir Reuters, Selasa (12/7).

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menolak klaim bahwa Rusia menggunakan minyak dan gas untuk memberikan tekanan politik, dengan mengatakan penutupan jalur gas untuk pemeliharaan adalah agenda rutin yang dijadwalkan, dan tidak ada yang "menciptakan" perbaikan apapun.

Ada jaringan pipa besar lainnya dari Rusia ke Eropa, tetapi alirannya telah menurun secara bertahap. Ukraina menghentikan satu rute transit gas pada Mei akibat campur tangan pasukan pendudukan Rusia.

Rusia telah memotong pasokan gas ke beberapa negara Eropa yang tidak memenuhi permintaan pembayaran dalam rubel. "Beberapa bulan terakhir telah menunjukkan satu hal: Putin tidak mengenal tabu. Oleh karena itu, penghentian total pasokan gas melalui pipa Nord Stream tidak dapat dikesampingkan," kata Timm Kehler, direktur pelaksana asosiasi industri Jerman Zukunft Gas.

Jerman telah beralih ke tahap dua dari tiga tahap rencana darurat penanganan gas, yang merupakan satu langkah sebelum pemerintah menjatah konsumsi bahan bakar. Berlin juga memperingatkan tentang adanya resesi jika aliran gas Rusia dihentikan.

Pukulan terhadap ekonomi bisa mencapai EUR 193 miliar (sekitar Rp 2.929 triliun) pada paruh kedua tahun ini, berdasarkan data dari asosiasi industri vbw negara bagian Bavaria, bulan lalu. "Penghentian tiba-tiba impor gas Rusia juga akan berdampak signifikan terhadap tenaga kerja di Jerman. Sekitar 5,6 juta pekerjaan akan terpengaruh oleh konsekuensinya," kata Bertram Brossardt, direktur pelaksana vbw.

Efeknya akan lebih luas lagi. Penghentian total akan membuat harga gas Eropa lebih tinggi lebih lama, karena telah berpengaruh pada industri dan rumah tangga. Sementara itu, harga gas grosir Belanda telah meningkat lebih dari 400 persen sejak Juli lalu.

"Jika Nord Stream terputus, atau jika Jerman kehilangan semua impor Rusia, maka efeknya akan terasa di seluruh Eropa barat laut," kata Menteri Energi Belanda Rob Jetten.

Dalam sebuah wawancara dengan Reuters pekan lalu, dia mengatakan ladang gas Groningen di Belanda masih dapat dipanggil untuk membantu negara-negara tetangga jika terjadi pemutusan total pasokan Rusia. Namun, meningkatkan produksi akan berisiko menyebabkan gempa bumi.

Penghentian pasokan melalui Nord Stream 1 akan merugikan Rusia serta Eropa Barat. Kementerian Keuangan Rusia telah mengatakan pada Juni bahwa mereka mengharapkan untuk menerima RUR 393 miliar (Rp 93,6 triliun) lebih banyak pendapatan minyak dan gas daripada perkiraan dalam perencanaan anggarannya.

Untuk Juli, mereka mengharapkan RUR 259 miliar (Rp 63,5 triliun) lebih banyak dari rencana anggaran yang diproyeksikan. Goldman Sachs menyatakan, pemeliharaan yang diperpanjang juga dapat mengakibatkan lebih banyak penghentian produksi gas Rusia.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore