
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko merangkap Plt. Direktur Utama PT KBI (Persero), Adiyasa Suhadibroto, di Jakarta, Jumat (6/11)/(Dimas Choirul/Jawapos.com).
JawaPos.com - Sistem Resi Gudang (SRG) terus dikembangkan untuk memperluas akses pembiayaan bagi petani dan pelaku usaha komoditas. Melalui pencatatan komoditas secara digital dan terverifikasi, petani diharapkan lebih mudah memperoleh pembiayaan dari perbankan serta menjangkau pasar yang lebih luas.
Pengembangan tersebut dilakukan melalui kolaborasi PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) atau KBI bersama Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) dan sejumlah pemangku kepentingan. Ekosistem SRG kini melibatkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pemerintah daerah, perbankan, pelaku usaha, hingga mitra internasional.
“Resi Gudang bukan sekadar instrumen penyimpanan, melainkan pintu bagi petani dan pelaku usaha komoditas untuk mengakses pembiayaan dan pasar yang lebih luas," kata Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko merangkap Plt. Direktur Utama PT KBI (Persero), Adiyasa Suhadibroto, di Jakarta, Jumat (6/11).
Hingga Oktober 2026, jumlah pengelola gudang dalam ekosistem SRG bertambah 10,6 persen dibandingkan periode sebelumnya. Sistem tersebut telah menjangkau berbagai komoditas, mulai dari gula, kopi, tembakau, gabah dan beras, hingga rumput laut.
Salah satu upaya digitalisasi dilakukan melalui peluncuran e-Seaweed Platform di Sulawesi Selatan pada 23–24 September 2026. Platform ini merupakan inisiatif bersama International Labour Organization (ILO) dan Pemerintah Swiss melalui SECO, dengan dukungan OJK serta pemangku kepentingan nasional dan daerah.
Melalui platform tersebut, aktivitas petani rumput laut dapat tercatat secara real time, mulai dari proses budidaya, transaksi, hingga aktivitas di gudang. Data usaha yang terverifikasi diharapkan dapat menjadi dasar pemanfaatan SRG sekaligus membuka akses pembiayaan yang lebih inklusif.
KBI memastikan setiap Resi Gudang tercatat dan terverifikasi melalui Sistem IS-Ware Next Gen. "Melalui pengembangan SRG dan pencatatan digital seperti e-Seaweed Platform, data komoditas menjadi lebih terverifikasi dan dapat menjadi fondasi kepercayaan bagi perbankan maupun pembeli,” kata Adiyasa.
Transaksi Tumbuh
Selain mengembangkan SRG, KBI juga mencatat pertumbuhan transaksi perdagangan berjangka komoditas. Hingga Oktober 2026, total transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) yang dikliringkan PT KBI mencapai 9,27 juta lot, meningkat 2,6 persen secara tahunan (Year-on-Year/YoY) dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Segmen Loco dan Komoditi Sistem Perdagangan Alternatif (SPA) mencatat pertumbuhan transaksi sebesar 12,7 persen. Sementara itu, transaksi pasar fisik timah dalam negeri juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan sebesar 17,68 persen secara tahunan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Netty Pergi, Jenderal Ditangkap: Ketika Riset Doktoral Membaca Kerusakan Polri dari Dalam
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Akhirnya Minta Maaf Usai Digeruduk Petarung MMA karena Hina UAH dan UAS
Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Mahasiswa Trisakti Geruduk Kantor Setneg Siang Ini, Tagih Janji Pemerintah soal Tritura
Prediksi Skor Lillestrom SK vs Viktoria Plzen di Liga Europa: Duel Berpotensi Berjalan Terbuka
Prediksi Skor PSIM vs Dewa United di BRI Super League: Laskar Mataram Berpeluang Beri Kejutan!
Blunder Berujung Gol, Fitrah Maulana Ungkap Perasaannya Usai Persib Menang
Upaya Restorasi 325 Hektare Hutan di TNGHS untuk Jaga Habitat Macan Tutul Jawa
Prediksi Skor Lion City Sailors vs Adelaide United di ACL Two: Tuan Rumah Diunggulkan Menang Lagi

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022