Sejumlah siswa menyantap makanan MBG saat kunjungan ke Sekolah Khusus Negeri 01 Balaraja dalam pelaksanaan Program MBG CSR Swasta Grab–OVO, Kamis (16/07/2026). (Hanung Hambara/ Jawa Pos)
JawaPos.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai perlu dijalankan secara lebih tepat sasaran agar manfaatnya benar-benar dirasakan kelompok yang membutuhkan. Peneliti Senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB Universitas Indonesia, Vid Adrison, menilai intervensi pemerintah dalam sebuah program harus dilakukan secara proporsional, termasuk dalam pelaksanaan MBG.
Pandangan tersebut disampaikan Vid saat menjadi pembicara dalam diskusi Economic Frontline 2026 bertajuk The Impact of Growing State Capitalism Toward Fiscal Policy and Energy Transition, Rabu (29/7). Forum itu membahas semakin besarnya peran negara dalam pembangunan ekonomi, termasuk implikasinya terhadap kebijakan fiskal dan berbagai program strategis nasional.
Vid mengatakan kehadiran pemerintah memang memiliki fungsi penting, yakni menciptakan keadilan sekaligus meningkatkan efisiensi. Namun, menurutnya, campur tangan negara juga memiliki batas yang harus dijaga agar tidak menimbulkan inefisiensi.
“Saya pakai analogi makanan, kehadiran pemerintah seperti garam. Tidak boleh terlampau banyak. Ada kadar tertentu. Ekonomi seperti itu, intervensi pemerintah yang terlalu berlebihan, itu sama seperti makanan yang terlampau asin,” ungkapnya.
Ia kemudian mencontohkan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. Menurut Vid, data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan bahwa kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan program tersebut tidak mencapai seluruh populasi penerima.
Kata Vid, berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), program Makan Bergizi Gratis hanya dibutuhkan 15 persen masyarakat. Namun pemerintah memberikan program tersebut kepada 100 persen sasaran.
Pandangan senada juga disampaikan Direktur Ekonomi CELIOS, Nailul Huda. Ia mengungkapkan lembaganya telah melakukan kajian mengenai MBG pada 2024. Hasil kajian tersebut menyimpulkan program akan lebih efektif apabila difokuskan kepada kelompok anak yang memang membutuhkan.
Menurutnya, MBG sebaiknya hanya diberikan kepada sekitar 50 persen anak-anak Indonesia yang masuk kategori membutuhkan. Selain itu, ia juga mengingatkan agar defisit anggaran negara tetap dijaga dan tidak melampaui batas 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Puluhan Orang Terjebak di AEON Mall Kumamoto Usai Gempa Dahsyat M7,1 Diikuti Ledakan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Laporkan Malik Bawazier, Suami Endah Fitrianingsih Jadikan CCTV Bukti Perzinaan
Pelapor Perzinaan Malik Bawazier Dicecar 28 Pertanyaan di Polda Metro Jaya
Prediksi Skor Arema FC vs DPMM FC di Piala Presiden 2026! Momentum Singo Edan Lolos ke Semifinal
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Malik Bawazier Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Suami Cut Keke Diduga Tersangkut Kasus Perzinaan
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Persib Bandung vs Tampines Rovers di Piala Presiden 2026! Maung Bandung Bisa Sapu Bersih Laga
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Raih 3 Poin Lagi!
