
Ilustrasi galon guna ulang. (Istimewa)
JawaPos.com - Pakar Polimer Jurusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), Hafis Pratama Rendra Graha, mempertanyakan dasar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang mengeluarkan aturan baru dengan memperketat standar batas aman migrasi Bisfenol A (BPA), yang merupakan salah satu monomer pembentuk galon guna ulang berbahan polikarbonat dari 0,6 mg/kg menjadi 0,05 mg/kg.
“Saya mempertanyakan dasar ilmiah dari pengetatan standar migrasi itu. Karena, dengan standar migrasi sebelumnya yang 0,6 mg/kg saja, belum ada bukti masyarakat mengalami gangguan kesehatan karena telah mengonsumsi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) galon guna ulang,” ujarnya dalam keterangannya, dikutip Senin (20/7).
Dia melihat apa yang dilakukan BPOM itu hanya mengacu kepada negara lain, khususnya Otoritas Keamanan Makanan Eropa (EFSA). “Jadi, tidak melakukan kajian mandiri atau punya expert panel sendiri,” ujarnya.
Padahal, lanjut Hafis, di beberapa negara lain seperti yang dilakukan di Eropa, pengetatan regulasi itu mungkin sudah ada dasar ilmiahnya.
“Tapi, kita kan belum memiliki dasar ilmiah yang jelas. Apalagi belum ada bukti di masyarakat bahwa paparan BPA dari galon polikarbonat itu mengganggu kesehatan,” ungkapnya.
Hafis menjelaskan, setiap negara memiliki kondisi yang berbeda-beda dalam menetapkan standar migrasi BPA. Di negara tropis seperti Indonesia misalnya, formulasi dari produk plastik itu akan berbeda dengan negara yang mengalami empat musim.
Menurutnya, di negara tropis tidak perlu ketahanan produk saat temperatur di bawah nol derajat celcius karena memang tidak mengalami musim itu. “Tapi, di negara empat musim itu ada, sehingga aditif atau ramuan kemasan plastik mereka juga harus beda,” tuturnya.
Baca Juga:Argentina Kalah dari Spanyol, Lionel Scaloni Tak Banyak Komentar tentang Kartu Merah Enzo Fernandez
"Nah, kalau di kita yang negara tropis, concern-nya itu adalah humiditas atau kelembaban udaranya tinggi, temperaturnya juga cukup tinggi, dan paparan UV-nya mungkin dalam keadaan tertentu cukup tinggi. Jadi, sebaiknya kita melakukan riset sendiri dan tidak mengacu kepada negara lain,” lanjutnya.
Karena itu, Hafis menyarankan, sebaiknya ada studi terlebih dahulu sebelum mengeluarkan regulasi dalam menetapkan standar aman migrasi BPA tersebut untuk menjamin bahwa regulasi yang ditetapkan itu memiliki dasar ilmiah yang kuat.
“Pertanyaannya adalah, apakah case-case hipotetikal konsumsi satu kilogram AMDK galon guna ulang itu relevan dengan apa yang ada kenyataannya di masyarakat? Ternyata kan tidak. Orang kan ada limit tertentu, sudah ditetapkan juga daily intake yang disarankan sekian. Nah, jadi itu dulu yang dilakukan,” ujarnya.
Yang harusnya dipertegas, kata dia, bahwa semua bahan kimia yang digunakan sehari-hari itu pasti ada concern tertentu tergantung level seberapa banyak paparannya dan seberapa tinggi dosisnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Borneo FC vs Persija Jakarta: Macan Kemayoran Menang Tipis di Samarinda
Prediksi Skor Lyon vs Auxerre di Liga Prancis: Les Gones Berpeluang Menang Telak di Groupama!
Prediksi Skor Newcastle United vs Bournemouth di Liga Inggris: The Magpies Tak Ingin Malu di Kandang
Prediksi Skor Hoffenheim vs Borussia Dortmund di Liga Jerman: Kans Die Borussen Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Bhayangkara FC vs Persebaya Surabaya: Green Force Diprediksi Menang Tipis di Lampung
Prediksi Arema FC vs Isenmulang Kalteng FC: Singo Edan Diprediksi Menang di Kanjuruhan
Santri Cilik Tegur Bacaan Alquran Nusron Wahid: Ayat Alquran Jangan Diacak-acak!
Prediksi Skor Werder Bremen vs RB Leipzig di Liga Jerman: Die Bullen Bisa Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Brentford vs Sunderland di Liga Inggris: The Bees Berpeluang Gasak Tim Tamu!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
