Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 7 Juni 2026 | 04.53 WIB

Dolar Menguat, Pembeli Menyusut: Drama Ekonomi di Balik Etalase Warteg

ILUSTRASI. Warteg Gang Mangga. Pembeli warteg berkurang seiring kenaikan dolar AS. (YouTube 10 Best ID). - Image

ILUSTRASI. Warteg Gang Mangga. Pembeli warteg berkurang seiring kenaikan dolar AS. (YouTube 10 Best ID).

JawaPos.com – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang menembus level Rp 18.000 mulai berimbas di kalangan pelaku usaha warung tegal (warteg). Tak hanya omzet yang menyusut, pelanggan warteg kini juga semakin berhemat dengan memilih menu makan yang lebih murah dan mengurangi jumlah lauk yang dibeli.

Izzudin Zidan, salah satu pedagang warteg di kawasan Puri Kembangan, Kembangan, Jakarta Barat, yang kebetulan terkena imbasnya. Zidan menilai kenaikan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah beberapa pekan terakhir ini membuat omzetnya turun.

Zidan bilang, para pelanggan yang biasanya membeli berbagai macam lauk dan sayur, kini membatasi anggaran makan maksimal Rp 20.000, sudah dengan minum.

"Pelanggan yang biasa pesan dua menu ayam dan telor, sama sayur, sekarang pelanggan cuma satu menu, paling hanya nasi dan telor (tanpa sayur) doang," kata Zidan, saat dihubungi JawaPos.com, Jumat (5/6).

Lebih parahnya lagi, lanjut Zidan, pelanggan yang makan di warungnya kini menurun hingga 50 persen dari sebelumnya. Padahal, lokasi warteg milik Zidan cukup strategis karena berada di kawasan perkantoran.

"Kalau lagi ramai biasanya 150 orang lebih tuh, sekarang paling 70, 75 orang aja," akunya.

Dikatakan Zidan, usaha warteg merupakan jenis usaha yang sangat sensitif terhadap kenaikan harga bahan baku. Adanya pelemahan rupiah, lanjut dia, dapat memicu kenaikan harga barang pokok. Ia khawatir kondisi ini dapat berpengaruh terhadap keberlangsungan operasional wartegnya. 

Apa yang dirasakan Zidan juga diamini oleh sejumlah warteg lain di berbagai daerah. Ketua Komunitas Warteg Nusantara (Kowantara) Mukroni membeberkan beberapa gambaran atau situasi di balik etalase kaca warteg saat ini. 

Pertama, adanya pembatasan anggaran makan atau fenomena "Pas Rp 20.000". Menurut dia, pembeli kini tidak lagi membeli menu secara keinginan, melainkan berdasakan sisa uang di dalam dompet.
 
Bahkan, di beberapa kasus, pembeli melakukan trik todong harga Rp 15.000 sekali makan. Padahal sebelumnya, diakui Mukroni, uang yang dikeluarkan para penikmat sajian warteg bisa mencapai Rp 35.000 per porsi.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore