Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 27 April 2026 | 13.41 WIB

Digitalisasi Kopdes Merah Putih Digenjot: Antara Ambisi Besar dan Realita Lapangan

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, melakukan kunjungan ke Koperasi Pesantren Al Ittifaq di Ciwidey pada Sabtu (25/4). (Istimewa) - Image

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, melakukan kunjungan ke Koperasi Pesantren Al Ittifaq di Ciwidey pada Sabtu (25/4). (Istimewa)

JawaPos.com-Upaya pemerintah mempercepat digitalisasi Kopdes Merah Putih terdengar menjanjikan. Efisiensi operasional, integrasi rantai pasok, hingga akses pasar yang lebih luas menjadi narasi utama yang terus didorong.

Namun, di balik optimisme tersebut, berbagai tantangan mendasar di lapangan belum sepenuhnya terjawab.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, menegaskan bahwa transformasi digital meliputi aspek adopsi teknologi serta perubahan cara kerja koperasi agar lebih efektif.

Digitalisasi harus berdampak langsung: lebih efisien, pasar makin luas, dan usaha koperasi makin kuat,” ujarnya saat mengunjungi Koperasi Al Ittifaq di Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Namun, contoh sukses seperti Koperasi Al Ittifaq justru belum merepresentasikan kondisi mayoritas kopdes Merah Putih di berbagai penjuru Indonesia. Banyak koperasi masih bergulat dengan persoalan dasar, mulai dari manajemen yang belum tertata, keterbatasan akses internet, hingga rendahnya literasi digital pengurus dan anggota.

Apalagi, dii berbagai daerah, akses internet yang tidak stabil masih menjadi kendala utama, terutama di wilayah terpencil. Tanpa fondasi infrastruktur ini, digitalisasi berisiko menjadi program yang hanya efektif di wilayah tertentu, bukan solusi merata bagi seluruh desa di Indonesia.

Persoalan lain terletak pada kesiapan sumber daya manusia (SDM). Tidak sedikit pengurus koperasi yang belum terbiasa menggunakan sistem digital, apalagi mengelola data produksi, distribusi, dan keuangan secara terintegrasi. Dalam kondisi seperti ini, implementasi digitalisasi yang terlalu cepat justru berpotensi menambah beban operasional, bukan meningkatkan efisiensi.

Integrasi rantai pasok berbasis digital juga belum sepenuhnya mudah diterapkan. Banyak pelaku usaha lokal masih mengandalkan pola distribusi konvensional karena dianggap lebih fleksibel. Perubahan menuju sistem digital membutuhkan proses adaptasi yang tidak singkat, termasuk membangun kepercayaan antarpelaku dalam ekosistem tersebut.

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore