
Platform pengeboran Norwegia di lapangan minyak Johan Sverdrup, Laut Utara.
JawaPos.com – Pemerintah memastikan pasokan bahan bakar minyak (BBM) nasional tetap aman di tengah meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Indonesia dinilai tidak terlalu bergantung pada impor minyak dari wilayah konflik karena sebagian besar pasokan justru berasal dari negara lain.
Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Fathul Nugroho mengatakan saat ini porsi impor minyak mentah Indonesia dari kawasan Timur Tengah relatif kecil dibandingkan dari negara lain.
“Sekarang sekitar 19 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari Saudi Arabia (Timur Tengah). Kendati demikian, pemerintah sudah menyiapkan langkah preventif dengan mengimpor minyak dari negara yang tidak terdampak konflik,” kata Fathul keterangannya di Jakarta, dikutip Jumat (13/3).
Baca Juga:Fokus Operasi Ketupat 2026 Jakarta Barat: Antisipasi Kejahatan Jalanan Hingga Awasi Harga Pangan
Ia menilai potensi penutupan jalur pelayaran energi global di Selat Hormuz oleh Iran tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Sebab, sekitar 81 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari negara yang tidak terdampak konflik di kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan data BPH Migas, Indonesia paling banyak mengimpor minyak mentah dari Nigeria sebesar 34,07 juta barel sepanjang April 2025 hingga Maret 2026 atau sekitar 25 persen dari total impor. Kemudian disusul Angola sebanyak 28,50 juta barel atau sekitar 21 persen.
Sementara impor dari berbagai negara lain mencapai 47,40 juta barel atau sekitar 35 persen dari total impor. Adapun dari Arab Saudi tercatat sebesar 28,50 juta barel atau sekitar 19 persen.
“Artinya kita lebih banyak mengimpor dari negara yang tidak terlibat konflik. Artinya pasokan BBM Indonesia tetap aman,” tegas Fathul.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak salah memahami informasi yang menyebut cadangan BBM nasional hanya cukup untuk sekitar 20 hari. Menurutnya, angka tersebut berkaitan dengan kapasitas penyimpanan yang dimiliki Pertamina, bukan mencerminkan keterbatasan pasokan energi nasional.
Saat ini kapasitas penyimpanan BBM nasional yang dimiliki Pertamina mencapai sekitar 6,10 juta kiloliter atau 67 persen dari total kapasitas. Sementara kapasitas penyimpanan milik pihak non-Pertamina mencapai 3,06 juta kiloliter atau sekitar 33 persen.
“Hingga saat ini, cadangan operasional BBM Indonesia tergolong aman hingga setelah momentum Ramadan dan Idul Fitri 2026,” pungkasnya.
