
Ilustrasi tanaman padi. (Istimewa).
JawaPos.com - Produksi padi nasional diperkirakan meningkat signifikan pada puncak musim panen Maret–April 2026. Proyeksi dari Badan Pusat Statistik menunjukkan potensi produksi mencapai 17,65 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) atau setara sekitar 10,16 juta ton beras.
Pemanfaatan Sistem Resi Gudang (SRG) dinilai dapat menjadi salah satu alternatif bagi petani untuk mengelola hasil panen tanpa harus langsung menjualnya saat harga rendah.
Melalui skema ini, komoditas yang disimpan di gudang memperoleh dokumen resi resmi yang dapat dimanfaatkan sebagai jaminan pembiayaan di lembaga keuangan. Dengan demikian, petani memiliki fleksibilitas untuk menunda penjualan hingga harga lebih stabil.
Sebagai lembaga yang menjalankan fungsi Pusat Registrasi Resi Gudang, PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI) terus mendorong pemanfaatan sistem tersebut di berbagai daerah sentra komoditas. Menjelang musim panen 2026, perusahaan menargetkan sosialisasi sistem registrasi resi gudang berbasis digital, Is-Ware Next Gen, kepada lebih dari 160 institusi dan organisasi.
Direktur Pengembangan Bisnis dan Operasional PT Kliring Berjangka Indonesia, Saidu Solihin, mengatakan penguatan sosialisasi sistem tersebut bertujuan agar pemanfaatan resi gudang semakin luas, terutama di kalangan petani dan pelaku usaha komoditas.
“Melalui sistem registrasi yang transparan dan akuntabel, resi gudang diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat, baik sebagai instrumen pembiayaan maupun untuk pengelolaan stok komoditas,” ujarnya di acara buka puasa bersama, Senin (9/3).
Selain membantu skema tunda jual, resi gudang juga dapat dimanfaatkan untuk manajemen stok komoditas hingga mendukung kegiatan ekspor, seperti pada komoditas rumput laut. Skema ini dinilai dapat memperkuat rantai pasok sekaligus mendukung program pemerintah dalam pengembangan ekspor dari daerah serta peningkatan kapasitas pelaku usaha kecil dan menengah.
Implementasi sistem registrasi resi gudang berbasis digital tersebut telah menjangkau sejumlah daerah sentra komoditas di Indonesia, di antaranya Aceh, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan. Penerima manfaatnya mencakup petani, nelayan, pelaku usaha komoditas, hingga pengelola gudang.
Hingga Februari 2026, total komoditas yang tercatat melalui sistem tersebut mencapai sekitar 502 ton. Angka ini diperkirakan akan meningkat seiring masuknya periode panen raya yang diprediksi berlangsung pada Maret hingga April di berbagai wilayah sentra produksi padi di Indonesia.
Dengan potensi produksi yang besar pada musim panen tahun ini, optimalisasi pemanfaatan fasilitas penyimpanan dan sistem resi gudang diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas pasokan sekaligus memberikan ruang bagi petani untuk memperoleh harga jual yang lebih baik.
