Toyota Avanza adalah salah satu mobil 7-seater yang diminati keluarga Indonesia. (Istimewa)
JawaPos.com - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) kembali menyoroti tingginya beban pajak mobil di Tanah Air yang dinilai menjadi salah satu penghambat utama pertumbuhan industri otomotif nasional.
Jika disejajarkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya, pajak kendaraan roda empat di Indonesia disebut jauh lebih mahal sehingga membuat harga mobil menjadi kurang bersaing.
Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, mengungkapkan bahwa potensi pasar otomotif Indonesia sebenarnya sangat besar, namun belum tergarap secara optimal. Ia menilai rendahnya rasio kepemilikan mobil menjadi indikator kuat adanya masalah struktural, salah satunya pajak yang terlalu tinggi.
“(Angka rasio kepemilikan) 99 mobil, padahal penduduk kita jumlahnya sampai 280 juta. Ternyata salah satunya pajak kita paling mahal (di antara negara Asia Tenggara)," ujar Kukuh Kumara kepada wartawan, dikutip Rabu (4/2).
Ia menjelaskan, mahalnya pajak membuat harga mobil melonjak jauh dari harga produksi. Kukuh mencontohkan, kendaraan yang keluar dari pabrik dengan harga Rp100 juta bisa dibeli konsumen hingga Rp150 juta, di mana selisihnya merupakan komponen pajak.
Menurutnya, jika memang bisa disimplifikasi, pajak di Indonesia sejatinya tidak terlalu besar. Hanya saja terdapat efek ke backward linkage dan forward linkage yang panjang.
Lebih lanjut, Kukuh menyebut kondisi tersebut turut berkontribusi terhadap stagnasi penjualan mobil nasional dalam lebih dari satu dekade terakhir. Sejak era Low Cost and Environmentally Friendly Vehicle (LCEV) pada 2013, pangsa pasar kendaraan jenis ini justru mengalami penurunan.
Meski begitu, ia optimistis, apabila beban pajak kendaraan dapat ditekan, daya beli masyarakat akan meningkat dan pasar domestik bisa berkembang pesat, bahkan berpotensi mencapai penjualan jutaan unit per tahun.
"Nah kalau makin banyak orang mampu beli kendaraan bermotor roda empat (akibat pajak yang murah), pasar kita ini sudah swasembada sebetulnya. Kalau ini ditingkatkan, pasar kita bisa 2 juta, 3 juta (unit mobil per tahun). Ini luar biasa," tukas Kukuh.
Untuk menggambarkan ketimpangan pajak, Kukuh membandingkan pajak tahunan mobil produksi dalam negeri yang diekspor ke negara lain. Ia menilai perbedaan tersebut sangat mencolok.
Contohnya saja Avanza yang dibuat di Indonesia memiliki pajak tahunan hampir Rp 5 juta setahun. Berbeda dengan Malaysia yang mana pajak tahunan tidak sampai Rp 600 ribu. Bahkan, Avanza yang dieskpor ke Thailand, pajaknya hanya Rp 150 ribu.

Prediksi Skor Kanada vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: Alphonso Davies Diragukan Tampil!
Beredar Kabar Komedian Bolot Meninggal Dunia, Begini Faktanya
Prediksi Skor Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Bisa Pecahkan Rekor
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Pembuktian Magis Christian Pulisic
Prediksi Skor Timnas Qatar vs Swiss di Piala Dunia 2026: The Maroons Terancam Gagal Start Sempurna
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Prediksi Duel Seru Korea Selatan vs Ceko, Son Heung-min Jadi Kunci!
Daftar Pemain Amerika Serikat dan Paraguay di Grup D Piala Dunia 2026
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Daftar Pemain Kanada dan Bosnia Herzegovina di Grup B Piala Dunia 2026
