Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 1 Oktober 2025 | 22.54 WIB

Inflasi September 2025 Dipengaruhi Kenaikan Harga Cabai dan Emas

Gedung Badan Pusat Statistik. (Istimewa)

JawaPos.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 0,21 persen secara bulanan pada September 2025. Kenaikan ini dipicu oleh peningkatan harga sejumlah komoditas. Terutama cabai merah dan daging ayam ras di tengah produksi hortikultura yang menurun dan tren kenaikan harga emas dunia.

Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M. Habibullah menuturkan, sejumlah catatan peristiwa memengaruhi indikator-indikator harga sepanjang September 2025. Antara lain, produksi cabai yang merosot pada September 2025, bahkan terendah selama tahun ini. Kemudian produksi bawang merah yang masih berlangsung dan harga emas yang memecahkan rekor.

"Kementerian Pertanian melalui Early Warning System (EWS) mencatat produksi cabai menurun pada September 2025, bahkan terendah selama tahun ini. Sedangkan untuk komoditas bawang merah, produksinya meningkat pada September 2025. Panen bawang merah masih berlangsung di beberapa daerah sentral produksi. Seperti Bima, Brebes, Nganjuk, dan Solok," terang Habibullah di kantornya, Rabu (1/10).

Dari sisi harga global, lonjakan harga emas turut memberikan tekanan inflasi domestik. BPS mencatat emas perhiasan memberikan andil inflasi sebesar 0,08 persen. Seiring rekor baru harga logam mulia di level Rp 2.234.000 per gram pada 30 September 2025.

Secara tahunan, inflasi mencapai 2,65 persen. Sedangkan secara tahun kalender, inflasi berada di posisi 1,82 persen. Terjadi kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari Rp 108,51 pada Agustus 2025 menjadi Rp 108,74 pada September 2025.

Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau Jadi Penyumbang Terbesar
Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar, yakni 0,38 persen. Dengan andil terhadap inflasi umum sebesar 0,11 persen. Kontributor utamanya adalah cabai merah dan daging ayam ras, masing-masing memberikan andil inflasi 0,13 persen.

"Komoditas lainnya yang turut mendorong inflasi antara lain sigaret kretek mesin (SKM), biaya kuliah perguruan tinggi, cabai hijau, dan sigaret kretek tangan (SKT), dengan andil inflasi masing-masing 0,10 persen," ucap Habibullah.

Sebanyak 24 provinsi mengalami inflasi. Sementara 14 provinsi lainnya mencatatkan deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Riau dengan kenaikan sebesar 1,11 persen. Sedangkan deflasi terdalam dialami oleh Papua Selatan, yakni 1,08 persen.

Habibullah menjelaskan, secara historis, komoditas cabai merah dan daging ayam ras dalam tiga tahun terakhir (2023-2025) cenderung mengalami deflasi di September. Kecuali pada September 2020. Namun, tren ini berubah di September 2025.

Sementara itu, beras yang biasanya mengalami inflasi di September dalam empat tahun terakhir (2021-2024), justru mengalami deflasi sebesar 0,13 persen. Dengan andil deflasi sebesar 0,01 persen. Deflasi beras secara bulanan di September ini adalah deflasi kedua di 2025. Sebelumnya, terjadi deflasi komoditas beras di April 2025.

"Beras menjadi salah satu komoditas yang meredam laju inflasi September ini, meskipun sebelumnya selalu memberi andil inflasi di bulan yang sama dalam beberapa tahun terakhir," ujarnya.

Selain bawang merah dan beras, beberapa komoditas lain juga memberikan andil deflasi. Seperti tomat (0,03 persen), bawang putih (0,09 persen), cabai rawit, ketimun, dan biaya sekolah menengah atas. Masing-masing juga menyumbang deflasi sebesar 0,09 persen.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore