Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 22 September 2025 | 15.03 WIB

IHSG Berpeluang Lanjutkan Tren Menguat, Pasar Menanti Data PCE AS dan Sikap The Fed

Ilustrasi layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (9/9/2025). (SALMAN TOYIBI/JAWA POS) - Image

Ilustrasi layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (9/9/2025). (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

JawaPos.com - Pasar saham global mencermati arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed) usai keputusan pemangkasan suku bunga pekan lalu. Meski langkah tersebut memberikan sentimen positif, pelaku pasar tetap berhati-hati. Mengingat, inflasi masih berada di level yang tinggi.

"Pelaku pasar mencermati pernyataan (Gubernur The Fed) Jerome Powell yang mengindikasikan inflasi masih tinggi dan pemotongan bunga adalah manajemen risiko untuk pasar tenaga kerja yang lemah," kata analis pasar modal Hans Kwee kepada Jawa Pos, Minggu (21/9).

Bank sentral Amerika Serikat (AS) itu masih akan sangat bergantung pada data ke depan sebelum mengambil kebijakan lebih lanjut. Dot plot terbaru bahkan menunjukkan potensi dua kali pemangkasan suku bunga acuan (Fed funds rate) di 2025. Serta, masing-masing sekali pada 2026 dan 2027.

Dari Eropa, tekanan terus berlanjut seiring dengan sejumlah tantangan yang muncul. Mulai dari krisis utang, dampak tarif dari AS, hingga ketidakstabilan politik yang dipicu oleh masalah anggaran. Ketidakpastian ini turut memengaruhi arus investasi global.

Hans mencatat sejumlah manajer investasi global mulai memperpanjang posisi beli di pasar negara berkembang Asia, termasuk Indonesia. "Mereka tetap overweight di pasar Indonesia dan Thailand pasca ketidakstabilan politik yang sudah mereda," terangnya.

Dari dalam negeri, langkah Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan (BI rate) secara mengejutkan juga memberikan angin segar bagi pasar. Banyak pelaku pasar kini memperkirakan akan ada satu kali lagi pemangkasan hingga akhir tahun. Dengan proyeksi BI rate mencapai 3,5 persen pada Desember 2025.

Pekan ini, fokus utama pasar tertuju pada rilis data personal consumption expenditures (PCE) di AS. Jika data inflasi menunjukkan penurunan, maka peluang pelonggaran kebijakan moneter akan semakin terbuka. "Data PCE AS diperkirakan akan bergerak turun," ujar dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Trisakti itu.

Secara teknikal, Hans memperkirakan bahwa indeks harga saham gabungan (IHSG) berpotensi mengalami penguatan. Support berada di kisaran 7.983 hingga 7.889. Sedangkan level resistance berada di rentang 8.068 hingga 8.099.

Pada perdagangan Jumat (19/9), IHSG bersama kapitalisasi pasar saham kembali mencatatkan rekor baru bersejarah. Ditutup pada level 8.051,118, merupakan rekor tertinggi sepanjang masa. Seiring dengan kapitalisasi pasar yang juga menorehkan rekor tertinggi barunya sebesar Rp 14.632 triliun.

Sebelumnya, pada perdagangan Rabu (17/9), IHSG juga mencapai rekor tertinggi di level 8.025,179 dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 14.516 triliun. "Rangkaian pencapaian rekor ini mencerminkan semakin kuatnya optimisme seluruh pemangku kepentingan terhadap prospek pasar modal Indonesia sekaligus menjadi bukti meningkatnya kepercayaan investor di tengah dinamika perekonomian global," ucap Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Kautsar Primadi Nurahmad.

IHSG selama sepekan mengalami peningkatan sebesar 2,51 persen dari 7.854,060 pada pekan sebelumnya. Investor asing mencatatkan nilai beli bersih Rp 2,87 triliun di penutupan perdagangan pekan lalu. Sepanjang 2025, investor asing mencatatkan nilai jual bersih Rp 58,70 triliun.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore