
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kiri) bersama Ketua Banggar DPR RI Said Abdullah (kanan). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Badan Anggaran (Banggar) DPR RI mengingatkan pemerintah agar berhati-hati dalam merumuskan kebijakan penerimaan negara, khususnya di sektor perpajakan. Ketua Banggar DPR, Said Abdullah, menegaskan meskipun pemerintah menargetkan peningkatan penerimaan perpajakan dalam RAPBN 2026, hal itu tidak boleh dilakukan dengan cara menaikkan tarif pajak.
"Pimpinan Banggar mendukung kenaikan penerimaan perpajakan. Namun, kami mengingatkan pemerintah agar tidak menaikkan tarif pajak, apalagi kondisi perekonomian rakyat tidak baik-baik saja. Jangan sampai Ditjen Pajak berburu di kebun binatang, tetapi harus memperluas kebun binatang," kata Said Abdullah kepada wartawan, Kamis (20/8).
Said menilai, strategi yang tepat adalah memperbesar skala usaha para pelaku usaha dan memperbanyak jumlah pelaku usaha baru. Dengan begitu, basis pajak akan semakin luas tanpa harus menambah beban masyarakat melalui kenaikan tarif.
Said juga menyoroti rencana pemerintah yang menargetkan pendapatan negara pada RAPBN 2026 sebesar Rp 3.147,7 triliun, naik Rp 282,2 triliun dibandingkan target tahun 2025. Dari jumlah tersebut, sumbangan terbesar berasal dari penerimaan perpajakan yang ditargetkan naik dari Rp 2.387,3 triliun pada 2025 menjadi Rp 2.692 triliun di tahun 2026.
Di sisi lain, Said mengingatkan potensi persoalan akibat berkurangnya Dana Transfer ke Daerah dan Desa (TKDD). Menurutnya, penurunan drastis dari Rp 919 triliun pada 2025 menjadi Rp 650 triliun di RAPBN 2026 berpotensi menghambat pelayanan publik di daerah.
"Ini bisa memaksa pemerintah daerah membuat kebijakan baru yang rentan menaikkan perpajakan daerah, dan ujungnya membebani rakyat," tegasnya.
Said juga menekankan pentingnya kebijakan fiskal dan moneter yang terintegrasi sebagai navigasi ekonomi nasional di tengah dinamika geopolitik global. Ia menyebut setiap kebijakan harus luwes, cepat, dan mampu menjawab persoalan tanpa menimbulkan keragu-raguan di kalangan pelaku ekonomi.
Selain itu, Banggar meminta pemerintah memperbaharui data kemiskinan seiring dengan perubahan angka Purchasing Power Parity (PPP) sebagaimana dilakukan Bank Dunia. "Pemutakhiran data ini penting untuk menjadi pijakan kebijakan penanggulangan kemiskinan ke depan agar lebih tepat sasaran," ujarnya.
Lebih lanjut, Said menegaskan berbagai program besar pemerintah seperti MBG, Koperasi Merah Putih, dan Sekolah Rakyat harus menjadi perbaikan perilaku rakyat. "Jangan sampai kita wasting time dan kehilangan sumber daya sia-sia. Kuncinya ada pada tata kelola yang akuntabel, transparan, dan partisipatif," pungkasnya.

Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs RD Kongo: Vitinha Incar Gol Pertamanya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
7 Weton Tulang Wangi Darah Manis yang Disukai Mahluk Halus Menurut Primbon Jawa, Weton Anda Termasuk?
Daftar Pemain Ghana dan Panama di Grup L Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Debut Bersejarah Wakil Asia Terancam di Laga Pertama
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Timnas Portugal vs RD Kongo, Duel Pembuka Grup K Piala Dunia 2026 yang Sarat Ambisi
Surat Pernyataan Manajer Kopdes Merah Putih Bocor di Medsos, Undur Diri Kena Denda Rp 100 Juta?
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
