
Dosen Psikologi Unika Atma Jaya Juliana Murniati (dua dari kanan) dalam seminar internasional di Jakarta. (Hilmi/Jawa Pos)
JawaPos.com – Industri tekstil di Indonesia selama ini dinilai menghasilkan emisi karbon yang tinggi sehingga tidak ramah bagi lingkungan.
Jika tidak ada perubahan, produk tekstil Indonesia bakal dikenai beban pajak karbon yang tinggi saat masuk pasar Eropa. Akibatnya, dari sisi harga menjadi lebih mahal dibandingkan dengan produk tekstil dari negara lainnya.
Kondisi tersebut menjadi sorotan dalam Konferensi Internasional Perlindungan Iklim dan Penghematan Energi pada Industri di kampus Unika Atma Jaya, Jakarta.
Prinsipnya, emisi karbon dalam proses industri tekstil di Indonesia harus dikurangi. Supaya industri ini bisa terus berkelanjutan.
William Jasen Kurnia, bos PT Harapan Kurnia Tekstil mengatakan, penting bagi industri tekstil untuk tidak hanya memikirkan keuntungan saja. "Tetapi juga harus memikirkan lingkungan untuk masa depan. Sehingga terus berkelanjutan," kata William dalam keterangannya Kamis (13/2).
Dia mengatakan, selama ini sumber energi dalam proses pembuatan tekstil adalah batu bara. Penggunaan batu bara berlangsung saat proses pemanasan dan pewarnaan.
Dengan proses seperti itu, maka industri tekstil menghasilkan emisi karbon yang tidak rendah. Untuk itu dia juga sedang mempelajari skema tarif pajak karbon yang berlaku di Eropa.
Dalam kesempatan yang sama, dosen Politeknik STTT Bandung Mohamad Widodo menuturkan, misi menjaga lingkungan di industri tekstil di antaranya bagaimana menggunakan air yang lebih sedikit.
"Jika bisa menggunakan air yang lebih sedikit, maka pembakarannya juga sedikit," katanya. Ujungnya emisi karbon yang dihasilkan dari industri tekstil bisa berkurang.
Pemerintah Indonesia saat ini semakin gencar mengatur mengenai emisi karbon. Tujuannya untuk mengejar target pengurangan emisi karbon secara nasional.
Sementara itu dosen Psikologi Unika Atma Jaya Juliana Murniati mengatakan, urusan pengurangan emisi karbon, termasuk di industri tekstil mencakup banyak disiplin ilmu. Termasuk membutuhkan pendekatan psikologi. "Karena yang menerapkan nanti adalah orang," tuturnya.
Sehingga perlu ada pendekatan psikologi supaya orang-orang yang bergerak di industri tekstil bisa memiliki kesadaran. Terutama tentang pentingnya mengurangi emisi karbon. Tidak berhenti pada kesadaran saja, tetapi juga harus bisa diterapkan dalam prosesnya sehari-hari.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
