Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 14 Juli 2024 | 18.20 WIB

Dorong Pariwisata Domestik, Menparekraf Bentuk Satgas Penurunan Harga Tiket Pesawat

Pihak Garuda Indonesia melakukan self ramp cheking terhadap armadanya dalam melayani pemudik pada Lebaran 2019. (Fedrik Tarigan/Jawa Pos) - Image

Pihak Garuda Indonesia melakukan self ramp cheking terhadap armadanya dalam melayani pemudik pada Lebaran 2019. (Fedrik Tarigan/Jawa Pos)

JawaPos.com - Dunia Pariwisata domestik mengalami goncangan. Masyarakat Indonesia memilih berlibur ke luar negeri ketimbang di dalam negeri. Pemicunya, tiket pesawat untuk penerbangan domestik melambung tinggi. Sementara tiket pesawat ke luar negeri, terutama untuk tujuan negara-negara ASEAN, relatif terjangkau.

Persoalan itu disadari oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno. Untuk mendorong penerbangan dalam negeri dan wisata, Sandiaga memastikan bahwa Pemerintah telah membentuk satuan tugas (satgas) penurunan harga tiket pesawat. Satgas itu sebagai upaya untuk menciptakan harga tiket pesawat yang lebih efisien di Indonesia.

“Itu sudah diadakan rapat koordinasinya. Dan, sudah diperintahkan ada sembilan langkah ke depan, termasuk pembentukan satgas untuk penurunan (harga) tiket pesawat,” ujar Sandiaga sebagaimana dilansir Antara, Minggu (14/7). Sandiaga menyampaikan hal tersebut setelah acara Road to: Run For Independence Day 2024 di Kawasan GBK, Jakarta, Minggu (14/7).

Mantan Wagub DKI Jakarta menjelaskan, Satgas Penurunan Harga Tiket Pesawat terdiri atas Kemenko Perekonomian, Kemenko Marves, serta Kementerian/ Lembaga (K/L) terkait lainnya.

Dalam kesempatan itu dia menyampaikan bahwa bukan hanya bahan bakar Avtur saja yang berkontribusi membuat harga tiket pesawat mahal di dalam negeri. Ada aspek lain seperti beban pajak hingga beban biaya operasional. “Jadi, itu semua akan dikaji dan akan dipastikan bahwa industri penerbangan kita efisien, seperti industri penerbangan di luar negeri," ujar Sandiaga.

Sebelumnya, Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan menyebut sedang menyiapkan langkah efisiensi penerbangan untuk menurunkan harga tiket pesawat, salah satunya terkait evaluasi operasi biaya pesawat. “Kami menyiapkan beberapa langkah untuk efisiensi penerbangan dan penurunan harga tiket, misalnya evaluasi operasi biaya pesawat,” ujar Luhut.

Luhut menjelaskan bahwa Cost Per Block Hour (CBH) yang merupakan komponen biaya operasi pesawat terbesar, perlu diidentifikasi rincian pembentukannya. “Kami juga merumuskan strategi untuk mengurangi nilai CBH tersebut, berdasarkan jenis pesawat dan layanan penerbangan,” ujar Luhut.

Untuk diketahui beberapa waktu belakangan publik sangat mengeluhkan harga tiket pesawat untuk penerbangan domestik. Tingginya harga pesawat itu membuat masyarakat yang melakukan perjalanan jauh memilih alternatif lain. 

Di sektor pariwisata, masyarakat memilih liburan atau berwisata ke luar negeri. Sebab, harga tiket tujuan negara-negara tetangga relatif sangat terjangkau. Contohnya penerbangan dari Jakarta ke Malaysia dengan Jakarta ke Padang atau penerbangan Padang ke Malaysia.

Masyarakat Padang lebih memilih menghabiskan masa liburan sekolah ke Malaysia ketimbang pergi ke pulau Jawa yang harus ditempuh dengan pesawat dengan pendaratan Jakarta. Ke Malaysia dari Padang tiket pesawatnya bisa didapatkan dengan harga Rp 400 ribu. Ke Jakarta malah tidak bisa didapatkan harga di bawah Rp 1 juta. 

Pengamat Pariwisata dari Universitas Dharma Andalas Padang Eka Mariyanti mendorong Pemerintah untuk membuat kebijakan khusus terkait harga tiket pesawat. "Jika tiket pesawat dibiarkan mahal, maka pariwisata lokal ada potensi mati suri," tandasnya. 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore