
Galangan kapal yang dimiliki Apin memproduksi sekitar 200 unit kapal pesanan dari dinas, maupun swasta perorangan dengan ukuran antara 2 hingga 29 GT.
JawaPos.com – Memiliki kondisi geografis kepulauan, Maluku Utara memiliki potensi besar usaha kelautan dan perikanan. Salah satunya usaha galangan kapal yang dilakoni Muhamad Safei di Ternate memberikan hasil miliaran rupiah.
“Kita mendekati Rp 1 Miliar pertahun sudah potong (upah) pegawai dan operasional, kurang lebihnya segitu,” ucapnya.
Pria yang akrab dipanggil Apin itu mengatakan, dulunya ia hanya seorang pekerja di tempat usaha galangan kapal. Kemudian memberanikan diri untuk membuka usaha serupa karena melihat peluang tingginya kebutuhan kapal untuk transportasi dan penangkapan ikan di sana. Ia juga termotivasi untuk mendukung program pemerintah dalam hal penyaluran kapal ke nelayan-nelayan di pesisir.
Pada tahun ini saja, kurang lebih 200 unit kapal berhasil dibuat dari galangan kapal milik Apin. Pesanan banyak datang dari dinas, ada pula dari swasta perorangan dengan ukuran yang bervariasi. Antara lain, kapal 2-3GT sebanyak 160-an unit, kapal cepat (speed boat) 3 unit, dan kapal latih ukuran 29GT untuk sekolah kejuruan sebanyak 2 unit.
“Terus ada pesanan kapal 30GT dari Ternate juga, yang lain-lain ketinting 1,5GT itu ada beberapa unit dari perorangan dan dinas juga,” imbuhnya.
Photo
Seorang pekerja di Galangan Kapal di Ternate. (LPMUKP untuk JawaPos.com)
Kapal-kapal tersebut dikirim ke berbagai wilayah di Ternate, maupun lintas pulau seperti Halmahera dan Pulau Morotai.
Untuk menjalankan usahanya, Apin didukung oleh karyawan yang ahli dalam pembuatan kapal. Rata-rata mereka bekerja dengan sistim borongan, satu tim mengerjakan satu paket pekerjaan, misalnya 10 kapal, 15 kapal, dan sebagainya. Cara ini dilakukan agar karyawan lebih fokus sehingga pesanan kapal selesai tepat waktu.
“Mereka per tim 5-10 orang, rata-rata harga borongan per unitnya sampai Rp 7 juta, itu ukuran 2-3GT 3 hari sudah selesai,” terangnya.
Tidak hanya itu, Apin juga memiliki 2 orang karyawan tetap yang bertugas sebagai supervisor dan 1 orang untuk quality control. Bahkan ada pula mahasiswa perkapalan dari universitas di Ambon yang menjadi pekerja lepas untuk membantu penyusunan rencana kerja sampai metode pelaksanaan di lapangan.
Usaha galangan kapal tersebut tentu membutuhkan modal yang besar mulai dari pembelian material dan mesin, biaya operasional, hingga gaji karyawan. Terlebih sebagian besar kebutuhan pembuatan kapal didatangkan dari kota besar seperti Jakarta dan Surabaya sehingga membutuhkan biaya kirim yang tidak sedikit.
Melihat besarnya kebutuhan usaha bidang kelautan dan perikanan, pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pun turun tangan memberikan fasilitas permodalan yang dapat diakses melalui satuan kerja Badan Layanan Umum (BLU) Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP).

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
