
Kolam untuk budi daya Ikan Sidat milik Rudy Sutomo yang mampu memproduksi 5 ton per bulan. Selain dipasarkan di dalam negeri, budi daya ikan Sidat yang dikembangkan berhasil diekspor ke Jepang.
JawaPos.com - Sidat merupakan salah satu jenis ikan yang memiliki tubuh unik. Bagi orang awam, mungkin akan mengira bahwa sidat adalah belut. Hal ini karena bentuk fisik keduanya hampir sama yaitu berupa tubuh bulat dan memanjang.
Meski masih cukup asing di telinga, hewan air ini justru diburu masyarakat Jepang karena kandungan proteinnya yang tinggi. Biasanya, sidat diolah menjadi berbagai makanan favorit Jepang seperti Unagi, Sushi, dan Kabayaki.
Indonesia merupakan salah satu negara eksportir sidat. Banyak daerah yang menjadi sentra sidat salah satunya adalah Cilacap.
Rudy Sutomo, pria asal Cilacap mencoba keperuntungannya dalam budi daya sidat. Diawali dengan pertemuan salah satu temannya dari Jepang, Rudy mulai ada ketertarikan dengan hewan yang memiliki nilai jual tinggi ini. Mereka pun menangkap sidat yang ada di Cilacap.
Namun, sidat hasil tangkapannya ditolak oleh pihak Jepang karena mereka menginginkan sidat hasil budi daya bukan dari tangkap. Rudy pun berinisiatif menyewa kolam dan belajar budi daya sidat secara otodidak namun ternyata gagal.
Kegagalan tersebut, justru menjadikan Rudy semakin terpacu dan memutuskan untuk belajar ke salah satu Universitas Perikanan yang ada di Jepang. Setelah pulang ke Indonesia, Ia mempraktikkan ilmu yang telah didapatnya di usaha budi daya sidat perorangan.
Dalam kurun waktu dua tahun , usaha budi daya sidat Rudy telah berkembang dan akhirnya Ia membentuk Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mina Sidat Bersatu.
Dari pengalamannya selama usaha, masalah terbesar dalam budi daya sidat di daerah Cilacap adalah dalam permodalan terutama dalam pembelian pakan dan benih. Hingga akhirnya, Ia memutuskan untuk bekerjasama dengan Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP).
Berkat permodalan dari LPMUKP, saat ini anggota Pokdakan Mina Sidat bersatu berhasil mengelola 60 kolam sidat. Hasil panennya pun meningkat dari 500 kg menjadi 5 ton per bulan.
Pemasaran sidat memasuki restoran di Jakarta dan Bali, bahkan mampu mengekspor ke Jepang secara rutin. “Sidat ini komoditi ekspor, sehingga saya yakin penyerapan pasarnya tidak akan berkurang. Tidak mungkin Jepang tidak membutuhkan sidat, karena mereka tidak bisa memijahkannya di alam. Jadi, budi daya sidat ini sangat menjanjikan,” jelas Rudy, Rabu (16/3/2022).
Mina Sidat Bersatu semakin berkembang. Produknya pun bukan lagi sekadar sidat utuh, tetapi juga diolah menjadi sidat asap. Rudy berharap, melalui usaha yang dilakukan koperasi dapat meningkatkan kesejahteraan anggota.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
