JawaPos Radar

Moody’s Investors Service Menurunkan Peringkat Lippo Karawaci

21/06/2018, 16:08 WIB | Editor: Teguh Jiwa Brata
Moody’s Investors Service Menurunkan Peringkat Lippo Karawaci
Ilustrasi proyek properti Lippo Karawaci (Istimewa)
Share this image

JawaPos.com - Lembaga rating Moody's Investors Service menurunkan rating perusahaan properti milik Mochtar Riyadi, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) dari B1 menjadi B2 dengan outlook negatif. 

Obligasi senior atau senior note yang diterbitkan anak usahanya Theta Capital Pte Ltd sebesar USD 75 juta atau setara Rp 1,04 triliun juga ditetapkan B2 unsecured. Aksi korporasi itu dalam rangka refinancing utang LPKR. Surat utang tersebut juga memiliki bunga 9,625 persen dan jatuh tempo hingga 2020.

Riset Moody's juga mencatat pada 31 Maret 2018, 79 persen total utang Lippo Karawaci tidak dijamin. Mayoritas pinjaman Lippo Karawaci berada di perusahaan induk. Sehingga, perusahaan diperkirakan akan mengalami kesulitan likuiditas. LPKR harus menghasilkan arus kas untuk menutupi kebutuhan likuiditas selama 12-18 bulan.

PT Lippo Karawaci menyayangkan keputusan S&P dan Moody’s yang menurunkan peringkat perusahaan lantaran secara fundamental, LKPR sebagai pengembang properti serta perusahaan investasi tetap tidak berubah. Dalam 10 tahun terakhir, LPKR berkinerja baik, selalu menambah nilai jangka panjang bagi pemegang saham.

Head Of Corporate Communication Lippo Karawaci Danang Kemayan Jati menyampaikan, pihaknya berkomitmen bekerjasama dengan lembaga pemeringkat untuk menanggapi pendapat konstruktif mereka. 

“Kami juga berkomitmen memperkuat likuiditas perusahaan serta memperkuat neraca untuk memperoleh kembali peringkat kami sebelumnya dengan prospek stabil. Dalam waktu dekat, kami akan segera bertemu dengan pemegang obligasi kami untuk memberikan penjelasan,” ujarnya kepada JawaPos.com, Kamis (21/6).

Selain itu, Danang juga menegaskan, bahwa dalam waktu dekat akan secepatnya bertemu dengan para pemegang obligasi atau surat utang perusahaan untuk menjelaskan kondisi perusahaan.

Alasan lembaga pemeringkat tersebut menurunkan rating lantaran perusahaan mengalami kesulitan likuiditas keuangan. Namun, Danang secara emas menegaskan perusahaan tidak mengalami likuiditas.

“Tidak ada krisis seperti yang diisukan sampai dengan kuartal pertama tahun ini LPKR masih mamapu mencatatkan keuntungan sebesar Rp 133 miliar,” tuturnya.

Selain itu, Danang juga mengatakan, pendapatan LKPR hingga akhir Mei tahun ini sebesar Rp 2,5 triliun dan membagikan dividen tunai sebesar Rp 2,6 triliun. “Jadi tidak benar bahwa LPKR mengalami krisis keuangan,” ucapnya.

Sementara, yang dikhawatirkan oleh para investor terhadap bisnis properti Lippo Group tersebut adalah mega proyek Meikarta. Danang menegaskan, proyek tersebut masih berjalan dengan baik dan masih mempunyai prospek bagus Kedepannya. 

“Perlu diketahui dan silahkan cek proyek meikarta lagi gencar gencarnya membangun 92 tower dan dengan target bahwa sampai dengan akhir tahun sudah bisa serah terima unit kepada pembeli sebanyak 18 tower sampai feb 2019,” tuturnya.

(mys/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up