Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 11 Mei 2021 | 19.31 WIB

Banyak Pemudik Bandel Pakai Travel Gelap, ini Kata Organda

Suasana kemacetan DI KM 31Jalan Tol Jakarta Cikampek, Jawa Barat, Kamis (6/5/2021). Kemacetan sepanjang 1 kilometer ini imbas pemeriksaan titik penyekatan larangan mudik lebaran, di Gerbang Tol Cikarang Barat. Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com - Image

Suasana kemacetan DI KM 31Jalan Tol Jakarta Cikampek, Jawa Barat, Kamis (6/5/2021). Kemacetan sepanjang 1 kilometer ini imbas pemeriksaan titik penyekatan larangan mudik lebaran, di Gerbang Tol Cikarang Barat. Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com

JawaPos.com - Fenomena pelanggaran kebijakan peniadaan mudik periode Lebaran tahun ini masih terjadi. Banyak masyarakat yang nekat melakukan perjalanan mudik menggunakan travel gelap.

Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Airlangga menyebut, terdapat sekitar 41.097 kendaraan yang diputar balik dari jalur mudik dari 113.694 kendaraan. Terdapat juga travel gelap sebanyak 306 kendaraan.

Sekjen DPP Organda Ateng Aryono menanggapi, pelanggaran tersebut terjadi karena beberapa faktor. Pertama, karena memang ada keperluan tertentu namun tidak terdapat dalam syarat orang yang dikecualikan. Sehingga tidak memiliki bukti sebagai penjelasan.

"Ketaatan orang atas perintah itu diinterpretasikan macam-macam. Ketika terjadi pembangkangan karena memang keperluan dan nggak punya penjelasan," ujarnya saat dihubungi oleh JawaPos.com, Selasa (11/5).

Selanjutnya, banyak masyarakat yang memiliki pandangan berbeda terhadap potensi penularan Covid-19. Seperti, anggapan lebih baik melakukan mudik dibandingkan berwisata atau pergi ke pusat berbelanja di tempat tinggalnya.

"Agak susah juga. Toh seperti kita tahu orang nggak mudik tapi dapat pergi ke mal atau pasar. Itu akhirnya, ngapain ke sana, mending mudik," tuturnya.

Di sisi lain, dia juga prihatin terhadap peristiwa sekitar 4 ribu orang yang positif Covid-19 dari 6 ribu orang yang dilakukan pemeriksaan tes Covid-19 secara acak. Hal tersebut sangat mengkhawatirkan.

Menurutnya, banyak masyarakat menganggap bahwa saat ini situasi pandemi sudah baik-baik saja. Sehingga cenderung mengabaikan protokol kesehatan Covid-19.

"Bahwa sesungguhnya ada proses sebelumnya yang belum terdeteksi ternyata masyarakat seolah-oleh nggak ada apa-apa, namun punya postensi. Kan nggak mungkin di jalan lalu tertular," ucapnya.

Pihaknya meminta pemerintah untuk melakukan penelusuran lebih jauh terkait hal ini. Sebab, artinya, masih ada klaster atau faktor lain yang menjadi potensi penularan Covid-19.

Ia menambahkan, Organda sendiri masih melakukan pelayanan bagi mereka yang masuk kategori pengecualian. Pengoperasian bis pun menggunakan stiker yang diberikan oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Sehingga petugas di jalan akan mengetahui bahwa angkutan tersebut memiliki izin. "Kalau sekarang, kalau mereka memenuhi syarat sehat dan memiliki izin untuk melakukan perjalanan dikecualikan, bisa (melakukan perjalanan)," pungkasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore