
Dirjen Holtikultura Kementan Prihasto Prihasto Setyanto meninjau lahan pertanian yang ditanam bawnag dan cabai untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri. (Istimewa)
JawaPos.com - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menegaskan terkait komitmen dirinya dalam membangun pertanian berbasis teknologi informasi. Hal ini dilakukan untuk membangun pertanian melalui pendekatan digital sekaligus membawa pertanian Indonesia ke arah pertanian 4.0.
Atas komitmen itu, Direktorat Jenderal (Ditjen) Hortikultura pun mengembangkan instrumen yang mampu memprediksi ketersediaan dan harga selama tiga bulan ke depan yang dikenal dengan nama Early Warning System (EWS). Sistem tersebut menjadi alat peringatan dini atas kejadian yang dapat terjadi beberapa bulan ke depan, khususnya komoditas cabai dan bawang merah. EWS ini diperlukan sebagai dasar kebijakan pemerintah untuk mengambil langkah-langkah antisipasi dan juga mitigasi resiko.
"EWS ini diakui telah bekerja sangat baik terutama menjelang Nataru (Natal dan Tahun Baru) lalu di mana stock bawang merah nasional bulan November-Desember diprediksi turun serta harga cenderung naik. Kita (Kementan) sudah mengetahuinya sejak September lalu," terang Direktur Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto dalam keterangan tertulis, Selasa (7/1).
Prihasto menambahkan, pemerintah telah mewaspadai kecenderungan ini sehingga tindakan preventif seperti pertambahan luas tanam di sentra utama terus dilakukan. "Hasilnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Nataru tanpa gejolak harga yang berarti," ungkapnya.
Memasuki musim penghujan yang mundur di awal tahun 2020, pemerintah pun kembali memantau EWS cabai dan bawang merah periode Januari sampai Maret untuk pemenuhan kebutuhan non substitusi penduduk Indonesia.
EWS Bawang Merah Januari-Maret 2020
Berdasarkan data EWS diketahui Kebutuhan nasional Januari-Maret 2020 diperkirakan mencapai 338.542 ton. Sedangkan produksi bawang merah diperkirakan mencapai 350.967 ton.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Sukarman menuturkan jika ditambah dengan stock akhir Desember 2019 dalam bentuk konde kering panen sebesar 170.669 ton, maka neraca kumulatif ketersediaan bawang merah nasional yaitu 206.777 ton (Januari), 206.375 ton (Februari) dan 183.094 ton (Maret).
"Ketersediaan bawang merah nasional dipastikan surplus dan aman," jelas dia. Bawang merah nasional sendiri ditopang di tiga provinsi utama yaitu Sumatera Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan, Jawa Barat dan NTB.
Ia juga menyebutkan, dalam pemenuhan kebutuhan bawang merah masyarakat Jabodetabek yang mencapai 28 juta orang dengan total konsumsi Januari-Maret 2020 sebesar 41.351 ton dapat dipenuhi dari 16 sentra utama dengan total produksi 223.711 ton.
"Sentra pemasok yang dimaksud antara lain Bandung,Garut, Cirebon, Majalengka, Grobogan, Pati, Demak, Temanggung, Brebes, Kulonprogo, Malang, Probolinggo, Nganjuk, Pamekasan, Lombok Timur dan Bima", rincinya.
Prediksi Harga
Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Yasid Taufik memprediksi bahwa harga bawang merah di bulan Januari masih cenderung fluktuatif.
"Para pedagang rata-rata masih wait and see dengan kondisi curah hujan tinggi yang berpotensi mempengaruhi panen dan distribusi. Namun, panen raya di Demak, Grobogan, sebagian Brebes dan Garut pada awal Januari bisa menahan kenaikan harga bahkan diperkirakan mampu menekan harga turun" katanya.
Untuk cabai, sebagai komoditas yang tidak dapat disimpan untuk jangka panjang, komoditas tersebut sangat rentan jika terjadi keterlambatan pengiriman. Adanya kekhawatiran supplier saat pengiriman dan pendistribusian barang ke Jabodetabek akan terhambat akibat dampak banjir besar yang melanda Jabodetabek beberapa waktu lalu.
"Beberapa armada pengiriman serta truk angkut memilih untuk libur. Bahkan sempat akses ke Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ) berhenti total menunggu air surut hingga tertunda 6 sampai 7 jam," tambahnya.
Seiring dengan pulihnya kondisi Jabodetabek serta akses jalan yang kembali lancar, stok cabai juga diperkirakan akan kembali normal. "Masyarakat tidak perlu kuatir karena EWS memprediksi stock dan harga cabai dan bawang merah tetap akan terkendali meskipun curah hujan cukup tinggi di bulan Januari sampai Februari ke depan" tutupnya.
EWS Aneka Cabai Januari-Maret 2020
Kebutuhan konsumsi nasional untuk cabai besar mencapai 254.670 ton dan produksi sebesar 281.712 ton atau surplus sebesar 27.042 ton. Cabai rawit 238.189 ton, produksi diperkirakan mencapai 258.969 ton atau surplus 20.780. Surplus bulan Januari untuk aneka cabai hanya berkisar 2- 3 ribu ton sehingga dimungkinkan adanya penurunan pasokan.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
