Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 18 Agustus 2025 | 22.01 WIB

Waspada Aksi Profit Taking, IHSG Bisa Melorot

Karyawan berada di dekat layar pegerrakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (Dok. Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Indeks harga saham gabungan (IHSG) berpeluang melemah pekan ini. Setelah sempat reli dan menembus level psikologis 8.000 sepekan lalu. Arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) dan pertemuan Jackson Hole akan menjadi perhatian pasar.

Analis pasar modal Hans Kwee menilai, pergerakan IHSG masih akan dipengaruhi oleh dinamika global. Serta aksi profit taking usai reli panjang. "Lebih ke aksi ambil untung," ungkap Hans kepada Jawa Pos, Senin. (18/8).

Data inflasi konsumen AS untuk Juli 2025 yang hanya naik 0,2 persen. Sedikit di bawah ekspektasi pasar yang mana bulan sebelumnya naik 0,3 persen. Hal ini sempat memicu harapan bahwa The Fed akan memangkas suku bunga hingga 50 basis poin (bps).

Namun, harapan itu mereda setelah data inflasi produsen AS menunjukkan lonjakan signifikan sebesar 3,3 persen secara tahunan dan 0,9 persen secara bulanan.

"Karena ternyata inflasi level produsen AS lebih tinggi dan berpotensi menaikkan inflasi konsumen AS di masa depan," jelasnya.

Kendati demikian, ekspektasi pemotongan Fed funds rate (FFR) pada pertemuan September tetap tinggi. Dengan peluang pemangkasan sebesar 25 bps. Hanya saja, The Fed dihadapkan pada dilema antara lemahnya data ketenagakerjaan dan meningkatnya tekanan inflasi akibat tarif perdagangan.

"Pelaku pasar menanti petunjuk dari simposium Jackson Hole," imbuh Hans.

Pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska yang membahas konflik Ukraina juga menarik perhatian. Meski peluang tercapainya perdamaian dinilai kecil. Hanya saja, hasil pertemuan tersebut bisa berdampak besar pada harga minyak dunia dan stabilitas ekonomi kawasan Eropa.

Dari Asia, ekonomi Tiongkok menunjukkan tanda-tanda pelemahan pada Juli 2025. Dipicu ketidakpastian terkait kebijakan tarif AS. Harga minyak global juga dalam tekanan lantaran potensi kelebihan pasokan tahun depan. Seiring dengan lemahnya proyeksi permintaan.

Dari dalam negeri, Hans memandang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2025 tergolong cukup baik. Sehingga menjadi pendorong sentimen positif di pasar keuangan. Bersamaan dengan prospek pemangkasan suku bunga The Fed dan masuknya kembali dana asing, IHSG sempat mengalami reli tajam.

"Kenaikan IHSG lebih banyak di topang sektor teknologi dalam hal ini DCII. Masuknya dana asing menodorong naiknya BBRI," kata dosen magister Fakultas Ekonomi Bisnis Unika Atma Jaya itu.

Dalam jangka pendek, lanjut dia, IHSG berpotensi cenderung melemah. Sentimen utama pekan ini akan datang dari hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) dan simposium Jackson Hole. Serta keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) dari dalam negeri.

"Secara teknikal, IHSG akan bergerak dengan support di kisaran 7.800 hingga 7.646 dan resistance di rentang 8.017 hingga 8.050," tandas Hans. 

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore