
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro. (Agas Putra Hartanto/Jawa Pos)
JawaPos.com-Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) 25 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur Juli 2025, Rabu (16/7). Keputusan ini diambil di tengah kondisi nilai tukar rupiah yang stabil, inflasi yang terkendali, serta perlambatan permintaan global.
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro memandang keputusan itu didasarkan pada sejumlah pertimbangan. Antara lain, nilai tukar rupiah tetap relatif stabil dalam beberapa bulan terakhir. Meskipun terdapat ketidakpastian global yang berkelanjutan. Sehingga memberikan kepercayaan kepada otoritas moneter untuk mendorong pelonggaran kebijakan.
Keputusan BI juga didukung inflasi yang terjaga rendah. Tercatat, inflasi indeks harga konsumen (IHK) Juni 2025 tercatat rendah 1,87 persen year-on-year (YoY). Masih berada dalam kisaran target BI sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.
"Inflasi tetap rendah dan berada dalam kisaran target BI, mendukung keputusan untuk pemangkasan suku bunga," kata Asmo kepada Jawa Pos, Rabu (16/7).
Pelonggaran BI rate mencerminkan sikap bank sentral yang tetap akomodatif dan pro-pertumbuhan. Juga merupakan langkah preventif dan terukur untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
"Penurunan suku bunga ini ditujukan untuk mendorong aktivitas ekonomi domestik dan meningkatkan akses pembiayaan, terutama di tengah tanda-tanda melemahnya permintaan global," jelas alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia 1995 itu.
BI nampaknya meyakini rupiah akan tetap stabil ke depan. Didukung operasi moneter melalui strategi triple intervention yang berkelanjutan. Mencakup intervensi di pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder.
Asmo menilai, BI masih memiliki ruang untuk kembali menurunkan suku bunga acuan. Setidaknya sebesar 25 bps sekali lagi. Hanya saja, keputusan tersebut akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi dan arah kebijakan moneter global, terutama langkah The Federal Reserve (The Fed).
"BI masih punya ruang untuk cut rate. Semua masih data dependent namun BI masih punya ruang cut rate 25 bps lagi. Tinggal lihat momentum The Fed cut rate," imbuh Asmo.
Selama Agustus 2025 akan menjadi periode observasi penting bagi BI. Melihat efektivitas transmisi kebijakan moneter. Khususnya dampak pemangkasan BI Rate terhadap suku bunga kredit perbankan (lending rate).
"Menurut saya bisa dilakukan di September. Di Agustus, BI akan melihat dulu transmisi dari BI rate cut ini ke lending rate," ucap Asmo.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
