Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 18 Maret 2025 | 20.16 WIB

Tensi Geopolitik hingga Defisit APBN Jadi Biang Kerok IHSG Terjun Bebas Lebih Dari 5 Persen

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (6/2/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (6/2/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com – Bursa Efek Indonesia menyampaikan telah membekukan sementara perdagangan (Trading Halt) akibat penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai lebih dari 5 persen.

Mengutip RTI Bussiness, IHSG saat ini berada di level 6.076 atau ambruk sebesar 6,12 persen atau 395,8 poin. Sepanjang perdagangan tercatat hanya 67 saham menguat, 616 saham melemah, dan 116 saham tidak mengalami pergerakan alias stagnan.

Merespons kondisi tersebut, Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus menyampaikan ambruknya IHSG disebabkan oleh sejumlah sentimen dalam dan luar negeri.

Mulai dari tensi geopolitik yang meningkat karena Presiden Rusia Vladimir Putin yang menginginkan perang lebih lama.

"Selain itu, terjadinya pembalasan tarif yang lebih besar dari Uni Eropa kepada Amerika Serikat (AS). Serta kekhawatiran akan resesi di Amerika yang terus mengalami kenaikkan," kaya Maximilianus Nicodemus dalam keterangannya, Selasa (18/3).

Adapun dari sisi domestik, Maximilianus Nicodemus membeberkan IHSG yang ambruk hingga menyebabkan perdagangannya dihentikan sementara juga didukung oleh penerimaan Indonesia yang mengalami penurunan hingga 30 persen.

Hal itu, lanjutnya, telah mengakibatkan defisit APBN melebar sehingga membutuhkan penerbitan utang yang lebih besar. Dan tentu saja, Rupiah kian melemah.

Bahkan, hal itu berpotensi pula untuk membuat tingkat suku bunga Bank Indonesia lebih sulit untuk mengalami penurunan.

Selain itu, penerimaan pajak juga mengalami penurunan hingga 30,19 persen secara tahunan (YoY), yakni hanya Rp 269 triliun hingga terjadi defisit APBN Rp 31,2 triliun per bulan Februari lalu. Di sisi lain, belanja pemerintah turun 7 persen dan utang naik 44,77 persen pada Januari 2025.

Ia menilai, di tengah kondisi itu, semua pihak khawatir bahwa risiko fiskal kian meningkat di Indonesia. Sehingga membuat banyak pelaku pasar dan investor pada akhirnya memutuskan untuk beralih kepada investasi lain yang jauh lebih aman dan memberikan kepastian imbal hasil.

"Saham menjadi tidak menarik, dan mungkin obligasi menjadi piihan setelah saham," tutup Maximilianus.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore