- Permasalahan sampah plastik dan pengelolaannya masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Data dari National Plastic Action Partnership (NPAP)
menunjukkan aliran sampah plastik ke lautan Indonesia diproyeksikan akan meningkat 30 persen menjadi sekitar 800.000 ton pada tahun 2025.
Hal tersebut jelas merupakan ancaman. Sebab, bagi lingkungan, sampah olastik dapat menimbulkan pencemaran, baik di tanah, air, maupun udara. Di tanah, plastik dapat menghalangi peresapan air dan sinar matahari, sehingga mengurangi kesuburan tanah dan dapat menyebabkan banjir. Sampah plastik memberi sumbangsih 90 persen sampah yang ada di lautan.
Apalagi, plastik yang mulai digunakan sekitar 50 tahun yang silam, kini telah menjadi barang yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Banyak kemasan saat ini kebanyakan menggunakan plastik, seperti yang paling mudah adalah air minum.
Untuk mengatasi hal ini, diperlukan upaya kolaboratif antara pemerintah, produsen, dan masyarakat. Melalui "Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen Kementerian Lingkungan Hidup," pemerintah menargetkan pengurangan sampah produsen sebesar 30 persen dari total timbulan sampah pada 2029.
Hal ini mendorong industri untuk berinovasi dalam menciptakan solusi berkelanjutan, seperti kemasan ramah lingkungan dan sistem daur ulang yang efisien. Senior Public Affairs and Sustainability Director Danone Indonesia, Karyanto Wibowo mengatakan, sejak 2018, Aqua telah berkomitmen untuk membangun model ekonomi sirkular dan menjadi bagian dari solusi terhadap permasalahan sampah di Indonesia.
"Kami menjalankan berbagai inisiatif bijak plastik di Indonesia, termasuk wilayah Pulau Jawa dan Bali. Di Pulau Jawa, Aqua bersama dengan Danone Ecosystem, dan Veolia Services Indonesia serta diimplementasikan oleh Yayasan Pembangunan Citra Insan Indonesia (YPCII) mengembangkan program Inclusive Recycling Indonesia (IRI)," jelas Karyanto melalui keterangannya.
Diklaim bahwa program ini bertujuan untuk menciptakan siklus hidup kedua dari botol plastik paskakonsumsi. "Program IRI dilaksanakan di beberapa wilayah di Indonesia dengan melibatkan 4 Tempat Pengolahan Sampah–Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di Jatim, Jateng, DIJ, serta 10 Mitra Pengumpulan di Jatim, Jateng, DIJ, dan Sulteng," kata Karyanto.
Selain untuk mengurangi dampak lingkungan, sampah plastik juga memiliki potensi ekonomi sirkular. Wahyuni, salah satu pengumpul sampah peserta program IRI menjelaskan, memanfaatkan sampah plastik, dirinya bisa mengatur penghasilan yang didapatkan.
"Kami juga menerima berbagai pelatihan, Saya jadi tahu bahwa sampah plastik yang saya kumpulkan bisa di gunakan kembali untuk sesuatu yang bermanfaat. Di samping itu, saya juga dapat membantu menyelamatkan lingkungan dengan mengurangi jumlah sampah plastik yang beredar," ungkapnya.
Wahyuni, salah satu pengumpul sampah peserta program IRI yang mendapatkan berbagai fasilitas seperti tabungan, layanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan dan Kesehatan (BPJS TK), alat pelindung diri (APD), peningkatan kesadaran tentang pekerja anak, serta pelatihan-pelatihan pengembangan diri termasuk perihal keselamatan dan pengelolaan keuangan selama menjadi bagian dari program tersebut.
Aqua bersama PT Khazanah Hijau Indonesia (Rekosistem) juga menjalin kerjasama untuk mengelola 1.400 metrik ton sampah kemasan dan botol plastik di Gresik, Jawa Timur. Kolaborasi tersebut diklaim merupakan implementasi konkret dari Extended Producer Responsibility (EPR) yang menjadi alternatif solusi untuk mengurangi beban yangbmenumpuk di Surabaya dan kota-kota penyangganya.
Sustainable Packaging Circularity Senior Manager Aqua, Jeffri Ricardo mengatakan
salah satu fokus utama mereka dalam mengelola kemasan paska konsumsi adalah mengembangkan ekosistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dan inklusif serta mengembangkan infrastruktur pengumpulan sampah di berbagai daerah di Indonesia untuk meningkatkan tingkat pengumpulan dan daur ulang sampah plastik.
Untuk itu, hingga saat ini, Aqua telah mengembangkan 10 bank sampah induk, 10 unit bisnis daur ulang, dan 19 collection center di seluruh Indonesia, melibatkan lebih dari 10.000 pemulung dan 433 karyawan. Selain itu, mereka juga aktif melakukan pendampingan kepada 31 TPS3R serta lebih dari 60 unit bank sampah.
"Untuk itu, kami terus bekerja sama dengan pemangku kepentingan untuk membangun infrastruktur dan meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah melalui unit bisnis daur ulang, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), Tempat Pengelolaan Sampah Reuse, Reduce, dan Recycle (TPS3R), dan bank sampah. Ini bertujuan memaksimalkan manfaat ekonomi sirkular bagi lingkungan, masyarakat dan juga kelangsungan usaha Aqua," kata Jeffri.