
Photo
JawaPos.com-PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) siap memproduksi komoditas soda ash nasional dengan pembangunan pabrik baru yang berlokasi di Bontang, Kalimantan Timur. Pembangunan direncanakan dilakukan pada awal tahun 2024.
Direktur Utama PKT Rahmad Pribadi mengatakan, pabrik tersebut nantinya ditargetkan dapat memenuhi 30 persen kebutuhan nasional atau mencapai 300 ribu metrik ton per tahun (MTPY). Ketersediaan itu ke depan diharapkan mampu mengurangi impor atas kebutuhan soda ash di dalam negeri.
"Harapan kami, dengan kapabilitas yang ada, PKT akan memenuhi kebutuhan soda ash domestik dan mengurangi ketergantungan impor. Di tahap awal ini, kami siap memenuhi hingga 30 persen kebutuhan nasional atau mencapai 300 ribu metrik ton per tahun (MTPY)," kata Rahmad Pribadi dalam keterangan resmi, Kamis (4/5).
Dia menjelaskan, kesiapan Pupuk Kaltim untuk membangun pabrik soda ash ini sebagai salah satu upayanya dalam menerapkan ekonomi sirkular. Dalam hal ini, pihaknya memanfaatkan produk sampingan CO2 yang dihasilkan dari pabrik amoniak existing untuk menghasilkan produk hilir yang memberikan nilai tambah.
Adapun nantinya, produksi soda ash akan menggunakan bahan baku CO2 hasil emisi pabrik juga amoniak sebagai by product pembuatan urea. Sementara itu, dari segi target pasar, pihaknya membidik wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur diikuti oleh Riau, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara.
Rahmad mengungkapkan, kebutuhan soda ash di wilayah tersebut diperkirakan mencapai hingga 789 ton per tahun untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan kaca, keramik, detergen dan lain-lain. Lebih jauh, pihaknya berharap dengan dibangunnya pabrik soda ash ini, beban emisi CO2 perusahaan bukan hanya berkurang.
"Tapi juga akan dimanfaatkan menjadi bahan yang lebih bermanfaat untuk industri dan kebutuhan harian masyarakat dengan menerapkan praktik ekonomi sirkular," jelasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan bahwa pabrik soda ash milik PKT nantinya berpotensi untuk menyerap lebih lanjut ekses CO2 sekitar 170.000 ton per tahun yang tidak berasal dari pembakaran (combustion) bahan bakar fosil, sesuai dengan prinsip Greenhouse Gas Emission (GGE).
Selain itu, rencana ini juga sejalan dengan target perusahaan menuju net zero emission di tahun 2060 dengan pengolahan emisi dan ekses produksi dari pabrik dan menjadikannya sebagai komoditas baru bernilai tambah. "Kami berharap inovasi ini dapat membantu PKT untuk semakin memimpin upaya transformasi industri petrokimia menjadi industri yang lebih hijau,” tutur Rahmad. (*)

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
