
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi
JawaPos.com - BANGGA . Inilah light rail transit (LRT) pertama di Indonesia. Setelah sekian lama, akhirnya Indonesia punya moda transportasi modern yang pertama. Bukan di Jakarta. Palembang-lah yang pertama. Karena itu, sebagai orang Palembang, Wong Kito Galo, saya bangga Kita semua pun layak bangga.
Kenapa LRT diperlukan? Pertama, Palembang adalah kota metropolitan dengan jumlah penduduk lebih dari 1,6 juta jiwa. Karena itu, dibutuhkan sistem angkutan masal berbasis rel untuk mendukung mobilitas penduduk.
Kota-kota metropolitan lain pun harus punya. Jakarta dalam proses. Yang lainnya seperti Surabaya, Bandung, dan Makassar segera menyusul. Sebab, transportasi masal adalah ciri kota modern, kota metropolitan.
Alasan kedua, ini bagian dari integrasi angkutan umum di sebuah kota. Saat ini bus, angkutan kota, taksi, maupun bus air yang ada di Palembang belum mampu mengatasi kemacetan. Karena itu, angkutan transportasi masal seperti LRT menjadi solusi.
Ketiga, ini yang signifikan. LRT dibangun di Palembang untuk mendukung event Asian Games 2018 yang digelar Agustus ini. Jalur LRT yang menghubungkan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II dengan Jakabaring Sport City akan memastikan kelancaran mobilisasi atlet, ofisial, media, maupun suporter.
Tanpa LRT, dalam kondisi lalu lintas yang padat, dibutuhkan waktu lebih dari 1,5 jam untuk menuju Jakabaring dari bandara yang jaraknya 21 kilometer. Dengan LRT, waktunya bisa dipersingkat menjadi hanya 45 menit atau 50 menit. Jadi, efisiensinya sangat signifikan.
Satu hal yang perlu saya garis bawahi: LRT ini adalah buah karya anak negeri. Konstruksi jalurnya dikerjakan BUMN Waskita Karya. Trainset atau gerbongnya digarap BUMN PT Inka di Madiun. Memang ada sebagian komponen untuk konstruksi yang masih diimpor, tapi jumlahnya kecil. Jadi, saya bisa menyebut bahwa LRT ini adalah karya anak negeri. Kita patut bangga.
Karena itu, kami, pemerintah, memohon fasilitas yang modern dan canggih ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya. Dijaga sebaik-baiknya. Sebab, LRT ini tidak hanya berperan untuk memperlancar transportasi. Tapi juga diharapkan bisa mengubah kultur masyarakat. Agar terbiasa dengan budaya antre, budaya tertib, dan disiplin.
Apalagi, saat ini pemerintah masih menyubsidi tarifnya. Sangat murah, hanya Rp 5 ribu ke berbagai stasiun. Atau Rp 10 ribu untuk perjalanan dari dan menuju bandara. Artinya, kalau orang atau turis mau jalan-jalan di Palembang, sangat terjangkau. Pempek saja harganya Rp 10 ribu. Ini jalan-jalan naik kereta canggih dan modern hanya Rp 5 ribu. Jadi, industri pariwisata diharapkan makin bergairah.
Keberadaan LRT ini memang diharapkan bisa berdampak pada perekonomian. Apalagi, pemerintah mendorong konsep transit oriented development. Jadi, area di sekitar stasiun akan dikembangkan. Dilengkapi fasilitas umum. Dibangun hunian. Sehingga infrastruktur ini akan terus ramai, terus hidup, dan memberikan manfaat bagi banyak orang.
*) Disarikan wartawan Jawa Pos Ahmad Baidhowi dari pemaparan Menhub saat sosialisasi "Payo Naik LRT" di Palembang kemarin (1/8)
Catatan: Payo adalah bahasa Palembang yang berarti ayo.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
