
Ikan Gurame hasil budidaya masyarakat di Banyumas, Jawa Tengah.
JawaPos.com – Keterbatasan air nyatanya tidak jadi penghalang bagi usaha budidaya ikan gurami. Dengan cara yang tepat, gurami mampu hidup maksimal sehingga keuntungan bersih dari penjualannya menyentuh angka 100 %.
“Kalau saya modal misalnya Rp 5 juta, saya jual nanti jadi Rp10 juta, seterusnya gitu, ini sudah diamati,” tutur Warsito Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Karya Mina Rahayu di Banyumas Jawa Tengah.
Saat ini gurami hasil budidaya mereka dijual dengan harga Rp 40 ribu/kg dan dipasarkan di lokal kabupaten. Hal ini disebabkan masih tingginya permintaan di Banyumas itu sendiri, bahkan stok cenderung kurang jika dibanding kebutuhan.
Namun untuk memperoleh hasil tersebut, Warsito mensyaratkan pemeliharaan air yang harus tepat. Inilah kunci supaya ikan tetap sehat hingga masa panen tiba. Apalagi wilayahnya termasuk sulit air dan mengandalkan irigasi sawah sebagai pengairannya. Di mana menurutnya, air tersebut sebelumnya telah melewati pemukiman, usaha-usaha rumah tangga, bahkan mengandung pestisida pertanian.
Oleh karena itu, air harus ditampung dalam kolam terpal dan diendapkan selama 2-3 minggu sebelum digunakan. Dari 14 kolam milik Pokdakan, hanya 6 yang dipakai lebih dulu untuk penebaran benih. Sisanya disiapkan untuk pembesaran ikan.
Photo
Ikan Gurami hasil budidaya masyarakat di Banyumas, Jawa Tengah. (LPMUKP untuk JawaPos.com)
“Caranya begini, pertama tebar sekolam isinya 725 benih, setelah dipelihara sekitar 3 bulan dari kolam pertama itu dibagi ke 2 kolam baru dengan air baru yang telah diendapkan. Jadi yang tadinya isi 725 dibagi 2. Kolam yang lama kan dibersihkan diisi air lagi untuk memindah kolam lainnya, jadi estafet, gak bareng,” jelasnya.
Dengan cara ini risiko penyakit pada ikan dapat diminimalisasi sehingga kesehatannya terjaga. Kepadatan ikanpun menjadi lebih rendah dan berpengaruh pada optimalisasi pertumbuhan.
Aspek lain yang perlu diperhatikan dan mempengaruhi kualitas air adalah pakan. Pemberian pakan tambahan seperti sente, daun suweg, dan daun afrika yang dianggap menambah rasa enak daging gurami, harus dibatasi. Dalam sehari maksimal 3 lembar yang bisa diberikan. Sebabnya daun-daun hijau dapat meningkatkan endapan di dasar kolam yang berpotensi mencemari air.
Guna meningkatkan kualitas gurami yang dibudidayakan, Pokdakan kemudian menyisihkan pendapatannya untuk membuat sumur bor. Langkah ini dilakukan agar bisa mendapatkan air bersih sehingga potensi kehidupan ikan semakin tinggi. Harapannya seluruh benih yang ditebar bisa tumbuh sampai panen.
Tingginya potensi pendapatan dari memelihara gurami memberikan spirit bagi para pembudidaya. Dukungan dari pemerintah baik pusat maupun daerah menjadi kesempatan positif yang patut dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha. Salah satunya fasilitas permodalan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui satuan kerjanya Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP).

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
