
BERMANFAAT: Putu Putri Indira Sari mengolah sampah organik makanan dengan metode ecoenzyme di rumahnya di kawasan Sidosermo Minggu (9/5). Metode tersebut diyakini efektif untuk mengurangi sampah sisa makanan di rumah. (Riana Setiawan/Jawa Pos)
JawaPos.com - Sampah makanan masyarakat Indonesia ternyata sangat banyak. Angkanya bahkan terus meningkat sejak periode 2000 hingga 2019.
Berdasarkan penelitian dari Waste4Change, pada 2019 jumlah sampah makanan orang Indonesia mencapai 184 kilogram per orang per tahun. Meningkat dari 150 kilogram per orang per tahun pada tahun 2000.
Direktur Lingkungan Hidup Bappenas Medrilzam mengungkapkan, sampah makanan bukan hanya berasal dari sisa setiap kali makan yang terbuang atau disebut juga food waste. Sampah makanan juga makanan yang masuk kategori food loss yang berasal dari industri makanan.
"Bisa dibilang, sekitar setengah kilo per hari kita buang makanan," ujar Medrilzam dalam webinar 'Indonesia Mubadzir Pangan, Kok Bisa?' dalam LCDC Week 2021, Selasa (12/10).
Medrilzam memaparkan, temuan sampah makanan sebanyak 184 kilogram tersebut termasuk perhitungan gabungan antara food loss dan food waste.
Selin itu, Medrilzam juga mengungkapkan, hasil penelitian tersebut juga menemukan adanya pergesaran jumlah antara food loss dan food waste. Hal itu kemungkinan karena adanya intervensi teknologi sehingga proses produksi jadi lebih efisien.
"Tapi malahan jadi food wastenya besar. Mungkin ini juga Tapi perilaku masyarakat kita kalau makan belum berubah, jadi lumayan tinggi food waste," tuturnya.
Medrilzam mengungkapkan, secara ekonomi ada kerugian dari jumlah sampah makanan. Bahkan, angkanya mencapai 4-5 persen PDB (produk domestik bruto) Indonesia. Jumlah itu setara dengan memberi makan yang membutuhkan hingga ratusan juta orang.
"184 kilogram itu kalau kita beri makan ke orang yang menbutuhkan, bisa mencapai 61-125 juta orang," imbuhnya.
Ia menyebut, dari besaran jumlah tersebut sebenarnya cukup untuk mengurangi kemiskinan, kelaparan, hingga stunting pada masyarakat. Di samping itu, sampah makanan yang menumpuk juga akan mencemari lingkungan.
Pencemaran lingkungan yang berasal dari sampah terkait dengan emisi gas rumah kaca, di mana tumpukan sampah makanan sejak 2000 hingga 2019 itu bisa mencapai hampir 1,7 juta ton emisi gas.
“Ini signifikan tapi bagaimana pun ini sumber inefisiensi, dan jelas ini tentunya sangat merugikan," pungkasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
