
Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (7/8/2019). Perdagangan IHSG ditutup menguat 84,72 poin atau 1,38 persen ke posisi 6.204,2. Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com
JawaPos.com–Indonesia resmi masuk ke jurang resesi karena mengalami pertumbuhan minus dua kuartal berturut-turut. Namun, pelaku pasar dalam hal ini para investor, sepertinya mengacuhkan isu resesi. Hal itu tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah yang menguat.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, pergerakan data perdagangan pekan lalu didominasi pada zona positif. Peningkatan tertinggi selama sepekan ini terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian bursa sebesar 16,16 persen menjadi Rp 9,105 triliun dari Rp 7,838 triliun pada penutupan pekan lalu.
Kemudian, peningkatan juga terjadi pada rata-rata frekuensi harian selama sepekan sebesar 9,33 persen menjadi 768,340 ribu kali transaksi dibandingkan 702,764 ribu kali transaksi pada pekan sebelumnya. Sedangkan rata-rata volume transaksi meningkat tipis 0,39 persen menjadi 12,455 miliar saham dari 12,406 miliar saham pada minggu lalu.
Kapitalisasi pasar bursa turut menunjukkan kenaikan sebesar 4,05 persen menjadi Rp 6.199,566 triliun dari Rp 5.958,186 triliun seminggu sebelumnya. Tidak hanya itu, IHSG juga mengalami peningkatan 4,04 persen mencapai level 5.335,529 dari posisi 5.128,225 pada penutupan pekan lalu.
Sementara itu, mengutip kurs tengah Bank Indonesia (BI) posisi rupiah saat ini makin menguat berada di level 14.321 terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Pengamat Indef Bhima Yudhistira mengatakan, para pelaku pasar lebih menyoroti perkembangan perpolitikan negara Paman Sam dibandingkan data ekonomi Indonesia. Keunggulan calon presiden Biden memberikan angin segar bagi pasar saham dan keuangan.
”Ini faktornya karena Biden effect. Ada euforia yang tinggi ketika Biden unggul dalam pemilu AS. Jadi investor gak anggap resesi ekonomi di Indonesia jadi hal penting,” ujar Bhima Yudhistira kepada JawaPos.com, Sabtu (7/11).
Bhima menjelaskan, Biden dianggap akan menguntungkan ekonomi Indonesia dengan stabilitas perdagangan internasional yakni meredakan tensi perang dagang. Kemudian stimulus yang dijanjikan Biden pun cukup jumbo sehingga mendorong percepatan pemulihan ekonomi global.
Menurut dia, masuknya dana asing karena ada Biden effect masih rentan berubah dan keluar lagi. ”Biden effect masalahnya akan bertahan berapa lama? Kalau hanya temporer bisa kembali terjadi koreksi karena investor ujungnya melihat fundamental ekonomi Indonesia masih jelek,” tutur Bhima Yudhistira.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=H4qheATiBzI&ab_channel=JawaPos

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
