
Photo
JawaPos.com - Salah satu produk hortikultura yang memiliki potensi besar untuk menembus pasar global adalah buah naga. Beberapa sentra produksi buah naga sudah mulai berkembang di tiap-tiap daerah, termasuk Kabupaten Buleleng, Bali.
Pionir buah naga organik di Bali I Wayan Kantra yang melihat peluang dan potensi besar pengembangan buah naga di Bali pun mengubah lahan tandus yang tidak produktif menjadi hamparan kebun buah naga organik bersama petani lain. Kini, lahan tersebut telah berkembang menjadi lokasi agro wisata yang memiliki sertifikat organik Institute for Marketecology (IMO) Control pada tahun 2016 dari perusahaan Swiss.
Kantra mengembangkan buah naga merah varietas jenis mawar, yang berasal dari Banyuwangi secara bertahap mulai tahun 2011.
“Produksi buah naga organik Poktan Gunung Sari dengan produksi 600-700 ton/tahun, luas lahan 11 ha dengan umur tanaman sekitar 9 tahun. Lahan produksi terletak di Desa Bulian, Kecamatan Kubu Tambahan, Kabupaten Buleleng. Harga buah naga organik dijual Rp. 8000 per kg,” katanya, Jumat (13/3).
Dalam rangka persiapan ekspor perdana buah naga dari Bali, saat ini telah dilakukan koordinasi dengan instansi terkait maupun pemerintah setempat. Persiapan yang telah dilakukan meliputi pengelolaan kebun dan sanitasi, pencatatan, monitoring, pengendalian OPT di kebun registrasi, bimtek identifikasi OPT, pengujian keamanan pangan buah naga dan penyiapan data intersepsi OPT.
Untuk mendukung rencana ekspor buah naga Buleleng ke Bali, telah dilakukan persiapan dan pembinaan ke rumah kemas bersama PT Bali Organik Subak (BOS), PT Narendra Mandara Sukses dan PT Duo Putri Abadi. Ketiga perusahaan ini merupakan eksportir buah untuk manggis ke beberapa negara tujuan ekspor. "Termasuk memperbaiki fasilitas collecting house sesuai standar," jelas dia.
Secara terpisah, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Yasid Taufik menjelaskan bahwa peningkatan kinerja ekspor buah buah naga dapat dilakukan penerapan sistem jaminan mutu di seluruh rantai produksi. “Penerapan jaminan mutu dapat diperoleh melalui standardisasi produk hasil pertanian dari hulu ke hilir melalui penerapan budidaya yang baik di tingkat produksi, penanganan pascapanen yang baik, pengolahan dan di tingkat distribusi hingga produk sampai ke tangan konsumen. Tentunya pengembangan buah naga perlu difasilitasi melalui bantuan sarana dan prasarana baik dari pemerintah pusat maupun daerah,” pungkasnya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
